RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami kronologis pemberian uang suap dari Komisaris Rumah Sakit Umum (RSU) Kasih Bunda Hutama Yonathan kepada Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna.

"Mulai dari persiapan hingga teknis pemberian sejumlah uang kepada tersangka AJM," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri lewat pesan singkat, Kamis (14/1).

Berita Terkait : KPK Telusuri Aliran Duit Swasta Ke Wali Kota Cimahi Non Aktif

Hal ini didalami penyidik saat menggarap Hutama sebagai tersangka, Rabu (13/1) kemarin. Selain memeriksa Komisaris RSU Kasih Bunda itu, kemarin, penyidik komisi antirasuah juga menggarap tiga saksi untuk tersangka Ajay.

Ketiganya adalah Marketing Dago Pakar PT Bandung Pakar Fitri, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kota Cimahi Hella Haerani, serta Kepala Seksi Perizinan Bangunan Dinas PMPTSP Aam Rustam.

Berita Terkait : Sakit, Dirut PT Hakaaston Tak Penuhi Panggilan KPK

Dari Fitri, penyidik melakukan penyitaan terhadap barang bukti darinya yang terkait dengan perkara suap ini. "Sementara Hella Haerani dan Aam Rustam dikonfirmasi mengenai prosedur perizinan pada Dinas PMPTSP Kota Cimahi," ungkapnya.

Dalam kasus ini, Ajay diduga meminta uang kepada Hutama Yonathan untuk mengurus izin pembangunan penambahan gedung di RSU Kasih Bunda. KPK menduga Ajay telah menerima Rp 1,661 miliar dari uang yang dijanjikan sebesar Rp 3,2 miliar.

Baca Juga : Dirjen Dukcapil Telah Terbitkan 15 Dokumen Kematian Korban Sriwijaya Air SJ182

Ajay disangkakan melanggar Pasal Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan atau Pasal 12 B Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. [OKT]