RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemarin memeriksa empat saksi dalam penyidikan kasus suap pengadaan barang/jasa dengan tersangka eks Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo. Keempatnya adalah Kepala bidang Cipta Karya Dinas PUPR Banggai Laut Ramli Hi Patta, Ketua Pokja ULP Pemkab Banggai Laut Nasir Gobel, wiraswasta yang juga bagian tim sukses Wenny, John Robert alias Ungke, dan ibu rumah tangga bernama Widitawati.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri membeberkan materi pemeriksaan keempat saksi ini. "John Robert alias Ungke, digali soal pertemuan pembahasan persiapan dana untuk pencalonan kembali tersangka WB sebagai Bupati," ujar Ali lewat, pesan singkat, Kamis (14/1).

Berita Terkait : KPK Geledah Kantor Bappeda Dan Wali Kota Batu

Kemudian, Ramli dan Nasir Gobel didalami pengetahuannya terkait proses lelang paket pekerjaan di Kabupaten Banggai Laut. "Sementara Widiyawati digali pengetahuannya terkait dugaan pembantuan dan pengelolaan beberapa rekening perbankan tersangka HT (Hedy Thiono, Komisaris PT Bangun Bangkep Persada)," bebernya.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan enam tersangka. Selain Wenny dan Hedy, tersangka lain adalah Komisaris Utama PT Alfa Berdikari Group Recky Suhartono Godiman, Direktur PT Raja Muda Indonesia Hengky Thiono, Direktur PT Antarnusa Karyatama Mandiri Djufri Katili, dan Direktur PT Andronika Putra Delta Andreas Hongkiriwang. Wenny disangkakan menerima uang dari sejumlah rekanan. Tujuannya, agar mereka memenangkan lelang untuk mendapatkan proyek pada dinas PUPR di Kabupaten Banggai Laut TA 2020.

Berita Terkait : KPK Periksa Orang Yang Atur Dalam Kasus Suap Barang Jasa Lamsel

Melalui pengkondisian pelelangan beberapa paket pekerjaan pada dinas PUPR tersebut, diduga ada pemberian sejumlah uang dari beberapa pihak rekanan, antara lain Hedy, Djufri, dan Andreas yang jumlahnya bervariasi, antara Rp 200 juta sampai dengan Rp 500 juta. Setelah pekerjaan oleh pihak rekanan sudah berjalan, Wenny meminta Kadis PU Basuki Margiono dan Kepala BPKAD Idhamsyah Tompo agar mempercepat pencairan pembayaran beberapa rekanan tersebut. Sejak September sampai dengan November 2020, telah terkumpul uang sejumlah lebih dari Rp 1 miliar yang dikemas di dalam kardus yang disimpan di rumah Hengky.

Pada 1 Desember 2020, Hengky dan bersama Hedy bersama beberapa pihak lainnya datang menemui Wenny di rumahnya. Dalam pertemuan tersebut, Hedy melaporkan, uang sudah siap dan sudah berada di rumah Hengky untuk diserahkan kepada Wenny.

Berita Terkait : KPK Lelang 3 Bidang Tanah Dan Bangunan Milik Nazaruddin

Kamis (3/12), tim KPK menyergap mereka. Enam belas orang diamankan. Juga, sejumlah uang dengan total sekitar Rp 2 miliar yang dikemas dalam kardus. Di samping itu ditemukan pula buku tabungan, bonggol cek, dan beberapa dokumen proyek. [OKT]