Soal Fee Ke Kemenpora Untuk Urus Dana Hibah, Ketua KONI Pusat Ngaku Tahu

Ketua KONI Pusat Valentinus Suhartono Suratman (Foto: M Qori Haliana/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Ketua KONI Pusat Valentinus Suhartono Suratman (Foto: M Qori Haliana/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Valentinus Suhartono Suratman yang akrab disapa Tono Suratman hari ini, Kamis (28/3), menjadi saksi bagi Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dalam kasus suap dana hibah.

Tono mengaku pernah mendapat laporan adanya permintaan commitment fee dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk mencairkan dana hibah.

“Apakah dalam rapat KONI yang dihadiri Bapak dan Pak Sekjen, apakah Pak Sekjen pernah menyampaikan kepada Bapak selaku Ketua Umum, bahwa ada kendala pencairan dari Kemenpora karena ada permintaan commitment fee atau cash back dari Kemenpora?” tanya pengacara Ending, Mahendra kepada Tono.

“Pernah,” jawab Tono. Tak puas dengan jawaban Tono, Mahendra kemudian mempertegas pertanyaannya. “Ada commitment fee?” tanya Mahendra lagi. “Ya,” jawab Tono. Kendati begitu, Tono mengaku mengarahkan bawahannya untuk tidak menghiraukan permintaan itu. Ia meminta bawahannya mengikuti peraturan yang berlaku.

Baca Juga : Erick Puji Langkah Cepat Telkom Dalam Perlindungan Keselamatan Kerja

“Pernah dapat laporan,  tapi saya memerintahkan untuk melaksanakan sesuai dengan norma undang-undang,” ujar Tono.

Dalam sidang itu juga terungkap, Tono menghubungi Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora sekaligus ketua tim verifikasi Adhi Purnomo, untuk memperlancar proposal dana hibah.

Hal ini terungkap saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman pembicaraan antara Tono dengan Adhi pada 13 November 2018. Dalam percakapan itu, Adhi berjanji akan membantu mencairkan dana hibah Kemenpora untuk KONI.

"Apa juga saya bantu Pak, kemarin juga cair,” ujar Adhi dalam rekaman itu. Kemudian, Tono menyuruh Adhi bertemu Hamidy. Jaksa pun menanyakan maksudnya. “Ada perintah untuk Adhi ketemu Pak Hamidy, apakah yang diberikan ini berkaitan dengan memproses sesuatu untuk memperlancar sesuatu?” tanya jaksa Budi Nugraha.

Baca Juga : Bamsoet Harap Puteri Indonesia Jadi Duta Empat Pilar MPR

Awalnya, Tono mengelak. Tapi, dia akhirnya mengaku setelah jaksa mengancam akan mengonfrontasinya dengan Hamidy dan Adhi. “Nanti bapak yang kena ya. Faktanya, ada nama-nama yang menerima uang dengan jumlahnya dan ada inisialnya,” tegas Jaksa.

“Jadi untuk mencairkan apa?” lanjut jaksa Budi. Tono akhirnya mengaku. “Untuk proposal, agar administrasinya berjalan dengan baik,” jawabnya.

Dalam rekaman itu, terungkap pula bahwa Tono ditemani Hamidy dan Bendahara KONI Johny Awuy bertemu dengan Staf Khusus Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum.

Dalam rekaman, juga disebut soal pertemuan untuk membahas masa depan. “Membicarakan apa?” tanya jaksa. “Saya lupa kalimat saya, tapi pembicaraan itu umum saja karena Ulum bentuknya bagian dari proposal kita,” beber Tono.

Baca Juga : Merapi Meletus, Penerbangan di Solo Dialihkan Wilayah Tak Terdampak

Dalam dakwaan Hamidy, Ulum disebut mengatur "commitment fee" dari KONI yang disepakati "commitment fee" untuk Kemenpora sebesar 15-19 persen dari total nilai bantuan dana hibah.

Hamidy didakwa memberi suap berupa uang Rp 400 juta, 1 unit mobil Toyota Fortuner VRZ TRD, dan 1 unit ponsel Samsung Galaxy Note 9 Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Mulyana.

Pemberian itu dilakukan agar Mulyana memuluskan pencairan Proposal Bantuan Dana Hibah kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga, dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga di ajang Asian Games 2018 dan Asian Paragames 2018.

Dalam proposal itu, KONI mengajukan dana Rp 51,52 miliar. Selain itu, pemberian tersebut juga dilakukan guna memuluskan pencairan usulan kegiatan pendampingan, dan pengawasan program SEA Games 2019 tahun anggaran 2018. [OKT]