PMP Mau Dihidupkan, Kroni Soeharto Girang

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano. (Foto: pgdikmen.kemendikbud.go.id)
Klik untuk perbesar
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano. (Foto: pgdikmen.kemendikbud.go.id)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kemendikbud mengusulkan memasukkan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di lingkungan sekolah. PMP yang diajarkan di era Orba ini diklaim bisa menguatkan nilai-nilai Pancasila.

Di jagat maya, sikap netizen terbelah. Ada yang menolak, ada juga yang setuju. Menghidupkan kembali PMP sebenarnya masih wacana. Tetapi karena PMP kental dengan produk Orba, banyak pihak yang gatel berkomentar di media sosial.

Sekadar info, PMP diajarkan di lingkungan sekolah sejak 1975. Kala itu,  menggantikan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, yang telah masuk dalam kurikulum sekolah di Indonesia sejak 1968.

Sejalannya waktu, pada 1994, mata pelajaran PMP diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pada masa Reformasi, PPKn diubah menjadi PKn dengan menghilangkan kata Pancasila yang dianggap sebagai produk Orba.

Baca Juga : Bima Sakti Panggil 25 Pemain untuk TC Timnas U-16

Untuk PMP, mata pelajaran ini bermuatan materi Pancasila, seperti diterangkan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau dikenal juga dengan sebutan P4. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Supriano mengatakan, sudah saatnya PMP dihidupkan lagi.

"PMP kita akan kembalikan lagi,  karena ini banyak yang harus dihidupkan kembali. Pancasila luar biasa buat bangsa kita, itu mungkin yang akan kita lakukan," ujar Supriano, Senin (26/11).

Alasan utama dikembalikannya PMP adalah munculnya paham radikalisme dan berbagai paham lain, yang bertentangan dengan norma Pancasila sebagai dasar negara. Nah, untuk membentengi itu, Supriano yakin Pancasila bisa menjadi jalan keluarnya.

"Kita punya pondasi Pancasila sebagai dasar. Dari lima sila itu, kan bisa membentengi seseorang. Dari lima sila itu, bisa membentengi orang menjadi lebih baik," kata Supriano.

Baca Juga : AP II Siapkan Jalur Khusus Bagi Penumpang Dari 4 Negara Di Soetta

Namun, hal ini masih sebatas wacana. Materi apa saja yang akan diajarkan, masih belum difinalkan. Apakah sama dengan zaman Orba atau akan berbeda. "Ini yang kami sedang siapkan untuk kembali lagi pendidikan Pancasila yang lebih eksplisit, Pancasila-nya bunyi. Pembelajaran Pancasila bukan ceramah-ceramah. Kita sesuaikan misalnya tolong-menolong. Nanti polanya tidak seperti dulu menjadi hafalan. Ke depan, penyampaiannya melalui siswa aktif. Pancasila bukan untuk dihafal tapi untuk dipraktekkan," pungkasnya.

Usulan ini ditanggapi netizen. "Balik ke zaman orba dong kalo gitu?" kicau akun @Jayax_bangz di Twitter, yang disambut @AngieStefie. "Betul, cuman belum tahu akan seperti apa nantinya PMP di era milenial ini, berharap jangan seperti jaman orba aja," cuitnya. Akun @ajprasetyo mengusulkan. Moral Pancasila: "Jangan korupsi, jangan membredel media, jangan culik bunuh rakyat, jangan memperkaya kroni-kroni dengan cara haram. Kalau itu pendidikannya, saya setuju," kicaunya.

Akun @BiasaLiburan mengusulkan mata pelajaran berbeda. "Pendidikan Moral Anti Korupsi (PMAK) yang cocok diajarkan pada anak-anak sejak dini.#pendidikan #indonesia #korupsi #jujur #suap," cuitnya. "Nggak mutu Mendikbud. Bikin dong sistem yang milineal agar generasi muda mengerti moral Pancasila," sahut @alficell.

Akun @hendypoer menilai jika PMP dihidupkan lagi kroni Orba senang. "PMP mau dihidupkan lagi, kroni Mbah Soeharto kegirangan nih," cuitnya. Sementara, akun @Babamovic mendukung PMP. "Yess.. Lama-lama aroma Orba akan hidup lagi, dan saya setuju untuk yang baik termasuk pendidikan PMP ini, karena tidak semua program Orba itu buruk dan merusak. Bentar lagi ada P4 nih, uhuuyy,"  kicaunya dijawab @Raka_0kre. "PMP, P4, Pancasila wajib namun bukan sebagai doktrin era ORBA tapi menjadikan manusia Indonesia menjadi pancasila yang hidup," jelasnya.

Baca Juga : Kondisi 2 Pasien Baru Covid-19 Stabil, Tidak Diinfus dan Sadar Penuh

Pemilik akun @Ahmadjaya7000g1 ikutan bersuara. "Buat saya, pendidikan orba lebih berkualitas dibanding sekarang mengenai Pancasila dan norma, terurai dan banyak pemahaman. Kalau sekarang antara tema dan pertanyaan banyak nggak nyambung. Melihat dari sekolah anak saya kelas 5 di Jakarta. Kalau yang lain nggak tahu," kicaunya. [NNM/FAQ]