Datang Malam, Langsung Ditahan

Sofyan Basir Tamat

Direktur Utama PLN nonaktif Sofyan Basir, langsung mengenakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/5). (Foto: Tedy O Kroen/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Direktur Utama PLN nonaktif Sofyan Basir, langsung mengenakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/5). (Foto: Tedy O Kroen/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah diperiksa 4 jam, Sofyan Basir akhirnya ditahan KPK, semalam. Harapan tersangka suap proyek PLTU Riau-1 itu berlebaran bersama keluarga, pupus sudah. Karier Sofyan pun pasti tamat. Sofyan dijadwalkan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus suap proyek PLTU Riau-1, pada pukul 10 pagi. Namun, lewat jam itu, dia belum juga datang.

Rupanya, menurut pengacaranya, Soesilo Aribowo, Sofyan kembali memilih menghadiri panggilan Kejaksaan Agung. Di kantor Korps Adhyaksa itu, Sofyan digarap sebagai saksi kasus Marine Vessel Power Plant (MVPP) atau kapal pembangkit listrik PT PLN.

Pilihan yang sama diambil Sofyan saat dipanggil KPK pada Ju­mat (24/5) pekan lalu.Tapi dia memastikan, Sofyan akan hadir. Jubir KPK Febri Diansyah menyatakan, Sofyan meminta penundaan pemeriksaan, dari jam 10 pagi menjadi pukul 13.00 WIB. Febri mewanti-wanti agar Sofyan memenuhi panggilan penyidik komisi antirasuah.

Berita Terkait : Digarap KPK Lagi, Hasto Kristiyanto Sumringah

“Penyidik akan menunggu yang bersangkutan datang. KPK tetap mengingatkan agar tersangka ataupun saksi yang dipanggil koperatif, dan menunjukkan itikad baiknya untuk memenuhi kewajiban hukum tersebut,” tegas eks aktivis ICW itu.

Lewat pukul 2 siang, Sofyan belum juga menampakkan batang hidungnya di markas komisi pimpinan Agus Rahardjo Cs. Febri kembali memberi ultimatum agar eks Dirut BRI itu datang ke kantor KPK yang terletak di Jl. Kuningan Persada Kavling K4 tersebut. “Kami tegaskan bahwa belum ada penjadwalan ulang terhadap rencana pemeriksaan SFB. Artinya KPK masih menunggu agar SFB beritikad baik dan kooperatif datang ke penyidik hari ini,” seru Febri.

Beberapa menit sebelum pukul 7 malam, Sofyan akhirnya datang. Mengenakan kemeja putih dibalut jaket krem, Sofyan tampak didampingi beberapa orang. Salah satunya, Soesilo Aribowo. Seorang di antara para pendamping itu, membawa tas jinjing warna hitam. Sementara Sofyan melenggang dengan tangan kosong. Dicecar wartawan, Sofyan yang raut wajahnya tampak tegang, tak mau berkomentar. “Nggak ada komentar ya, belum, nanti saja, terima kasih,” selorohnya, sembari berjalan tergesa memasuki lobi gedung KPK.

Baca Juga : Malam Ini, Transjakarta Siapkan Hand Sanitizer dan Masker di 80 Halte

Pukul 23.28 WIB, Sofyan turun dari lantai 2 gedung KPK. Jaket kremnya sudah dibalut rompi oranye tahanan KPK. Wajahnya tak lagi sumringah. Tampak lesu dan tak bersemangat. Keluar dari lobi Gedung KPK, dia tak mau berkomentar. Berusaha senyum, tapi getir. “Makasih banyak, doain aja ya, kami ikuti prosesnya,” ujar Sofyan seraya berjalan menuju mobil tahanan KPK.

Setelah itu, tak ada lagi pertanyaan yang dijawabnya hingga masuk ke dalam mobil tahanan warna hitam. Soesilo menyayangkan penahanan kliennya. “Kami sayangkan terjadi penahanan pada saat sekarang, di saat terakhir puasa, dekat-dekat Lebaran. Itu juga harapan beliau (Sofyan Basir), tapi kan sepenuhnya menjadi kewenangan penyidik KPK,” ucap Soesilo, pasrah.

Soesilo menjelaskan, dalam pemeriksaan kali ini, Sofyan hanya dicecar sekitar 3-4 pertanyaan. Terutama tentang 9 pertemuan dengan Eni Maulani Saragih dan Johannes B Kotjo, bos PT Blackgold Natural Resources. Termasuk juga, pertemuan dengan eks Ketua DPR Setya Novanto. Sofyan ditahan 20 hari pertama di Rutan Cabang KPK di belakang Gedung Merah Putih, Kavling K4.

Baca Juga : Dua Pasien Terinveksi Corona Berangsur Pulih

Untuk diketahui, sebelumnya KPK mengumumkan penetapan tersangka Sofyan Basir pada 23 April lalu. Sofyan diduga bersama-sama Eni Saragih dan Idrus Marham menerima suap dari Johannes Kotjo terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1. Sofyan diduga mendapat jatah sama dengan Eni dan Idrus.

Keterlibatan Sofyan Basir berawal ketika Direktur PT Samantaka Batubara mengirimi PT PLN (Persero) surat, pada Oktober 2015. Surat pada pokoknya memohon PLN memasukkan proyek dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Sayangnya, surat tak ditanggapi. [OKT]