Tak Mau Capek Saat Beramal

Catatan : UJANG SUNDA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Selama Ramadan ini, gairah masyarakat untuk beramal sangat besar. Lihat saja, banyak masyarakat berlomba-lomba untuk bersedekah. Ini tentu patut kita syukuri. Semoga ini betul-betul menunjukkan peningkatan keimanan masyarakat kita.

Salah satu amal yang sedang ngetren adalah bagi-bagi takjil bagi yang berpuasa. Banyak pihak tertarik dengan cara ini. Dari yang dilakukan di masjid sampai di pinggir jalan. Dari oleh perorangan, komunitas, sampai perusahaan. Mungkin ini tidak lepas dari janji pahala yang sangat besar dalam bagi-bagi takjil ini. Dalam khutbah-khutbah para dai yang banyak ditemukan selama Ramadan, pahala memberi makan yang berpuasa sama besarnya dengan yang berpuasa itu sendiri.

Namun, kadang-kadang gairah beramal tersebut tidak dilakukan dengan cermat. Terkesan asal bagi-bagi saja. Asal dapat pahala. Tanpa dipikirkan aspek risiko, efektivitas, dan juga manfaat yang lebih besar. Salah satunya dalam bagi-bagi takjil di pinggir jalan.

Berita Terkait : Bagi-Bagi Kekuasaan

Menurut saya, bagi-bagi takjil di jalan ini kurang efektif, berisiko, dan bisa jadi kurang tepat sasaran. Kenapa demikian? Pertama, penerimanya tidak diseleksi. Semua pengguna jalan yang mau, yang berhenti, boleh mengambil takjil itu. Yang jalan kaki, yang naik sepeda motor, sampai yang bawa mobil mewah. Semuanya. Yang tidak puasa juga boleh.


Padahal, masih banyak masyarakat kecil lain yang mungkin lebih membutuhkan takjil tersebut. Seperti yang tinggal di daerah-daerah kumuh, di kolong-kolong jembatan, yang hidup di dalam gerobak, dan yang ada di kampung-kampung. Kalau saja kita mau capek sedikit, dengan membagikan ke mereka, tentu akan lebih bermanfaat dan efektif.

Kedua, pembagian itu menganggu lalu lintas. Untuk yang dibagikan di lampu merah, memang tidak terlalu masalah. Tapi, yang dibagikan di pinggir jalan, ini yang menimbulkan masalah. Banyaknya kendaraan yang minggir untuk mengambil takjil itu kadang membuat lalu lintas jadi tersendat. Bahkan bisa macet. Padahal, kita tahu bagaimana padatnya jalanan di Jakarta. Pengamat perkotaan Yayat Supriatna pernah bilang, memindahkan satu batu dari tengah jalan saja bisa bikin macet. 

Berita Terkait : Kurang Sehat, SBY Tak Ikut Shalat Id Bersama Keluarga

Ketiga, pembagian takjil di pinggir jalan juga membahayakan. Memang, belum ada laporan terjadi kecelakaan akibat pembagian itu. Namun, bukan berarti tidak menyimpan risiko. Saya pernah mengalami sendiri. Saat melintas di jalan agak lengang, kecepatannya kira-kira 40 kilometer per jam, di pinggir jalan ada orang melambai, menawarkan takjil gratis. Kendaraan di depan saya, yang sedang dalam kecepatan, tiba-tiba ngerem dan ambil kiri. Dia ingin mengambil takjil itu. Saya pun harus ngerem ngedadak. Beruntung di belakang tidak ada kendaraan lain dengan kecepatan tinggi, yang bisa menyebabkan tubrukan. 

Dengan tiga alasan ini, saya tidak bermaksud menghalangi para dermawan untuk membagikan takjil gratis. Sebab, pembagian itu adalah perbuatan sangat baik. Namun, semua hal baik harus dilakukan dengan baik pula. Alangkah lebih baik jika pembagiannya lebih selektif lagi. Kalau tidak bisa membagikan ke pelosok-pelosok atau kampung kumuh, kita bisa menitipkannya di majid. 

Untuk para pengendara, jangan terlalu dikhawatirkan. Saya yakin mereka punya uang untuk sekadar beli air mineral atau kolak. Mereka juga tidak akan susah menemukan takjil. Di Jakarta ini, selama Ramadan, pedagang takjil sangat banyak. Bahkan, banyak yang pasang meja di trotoar. Kalau pun pengendara tadi tidak punya uang, dia bisa mampir ke masjid terdekat.***