Ngutang Buat Mudik

Catatan : SARIF HIDAYAT

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mudik Lebaran selalu punya cerita. Beda jaman berbeda pula tantangan buat sampai ke kampung halaman. Keluhan masalah kemacetan tahun ini sudah mereda.

Mudik jalur darat sudah nggak horor lagi. Jalan baru baik tol dan nol tol sudah semakin banyak. Arus mudik lebih lancar. Nyimak obrolan warung kopi para pemudik, tetangga sendiri, isu mahalnya tiket pesawat kini paling banyak mereka perbincangkan.


Harga tiket cukup menguras kantong. Terutama, buat pemudik yang kampung halamannya di luar Pulau Jawa. Naik pesawat terbang bagaimana pun paling efisien dibandingkan moda transportasi lain. Meskipun harganya bikin nyengir. Misalnya saja ke Padang, Sumatra Barat.

Berita Terkait : Yang Muda Jadi Menteri

Jika tahun lalu menggunakan jasa maskapai penerbangan murah, per orang cuma kena Rp 3 juta untuk tiket pulang dan pergi (PP), tahun ini mencapai 4,4 juta. Dengan tiket seharga itu, maka untuk sebuah keluarga kecil dengan satu istri dan dua anak setidaknya merogoh kocek Rp 17 jutaan. Walau begitu, tingginya biaya mudik tak membuat para pemudik pantang surut. Tetangga saya tetap mudik.

Mudik Lebaran ternyata sudah menjadi kebiasaan yang sangat sulit ditinggalkan. Tidak mudah menahan diri untuk tidak mudik. Ada tetangga saya semula bertekad tidak mudik karena terbentur masalah ekonomi. Tetapi, di ujung waktu, melihat teman sekampungnya mudik, akhirnya tergoda pulang kampung juga.


Lelaki dengan dua anak itu sempat curhat tentang kondisi keuangannya yang sedang cekak. Lebaran tahun ini berdekatan dengan jadwal ajaran baru sekolah.Dia sedang butuh biaya untuk membiayai anak yang baru mulai masuk sekolah. Selain itu, juga harus membayar cicilan rumah dan kendaraan.

Berita Terkait : Ini Yang Harus Dilakukan Setelah Mobil Dibawa Mudik

Sementara biaya mudik cukup besar, bukan hanya persoalan biaya transportasi saja, tetapi juga ada biaya lain yang nilainya lumayan gede, mulai dari ngasih amplop ke sanak saudara sampai ongkos jalan-jalan di kampung halaman. Denger-denger, demi pulang kampung, tetanga saya itu sampai ngutang. Alamak. Rasa-rasanya persoalan itu dialami banyak orang.

Makanya tak heran sejumlah pemuka agama rajin sorotin soal itu. Selama Ramadhan, setidaknya saya tiga kali mendengarkan kuliah subuh khusus menyoroti soal mudik. Para penceramah itu menekankan agar umat muslim tidak memaksakan diri untuk mudik menjelang Lebaran. Jika keuangan terbatas, mudik sebaiknya dilakukan pasca Lebaran saja, menunggu tarif transportasi turun.


Apalagi, momentum terbaik mudik sejatinya pasca hari Raya idul Fitri. Karena, waktu-waktu menjelang hari Raya Idul Fitri, adalah momen terbaik bulan suci Ramadhan, untuk itikaf di Masjid, menjemput lailatur qodar, dan bersimpuh memohon ampunan kepada Allah SWT. ***

RM Video