Bala Bantuan Dari Langit

Ngopi - Bala Bantuan Dari Langit
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Saat menyusuri ujung blokade beton dan kendaraan barikade Brimob di depan Museum Nasional pada aksi Jumat kemarin, hujan tiba-tiba mengguyur. Saya pun langsung mencari tempat berteduh.

Massa yang aksi dan para petugas yang berjaga, juga langsung bubar. Bahkan ada yang lari kocar-kacir. Saya mencoba bertahan di bawah pohon rindang depan museum. Berusaha mendapat sinyal Wi-Fi gratis. Tak bisa lari lebih jauh, karena sinyalnya langsung hilang.

Namun, usaha berteduh di bawah pohon tak bisa bertahan lama. Dedaunannya tak kuasa menampung guyuran air hujan yang kian lebat. Beruntung beberapa foto suasana terkini sidang perdana sengketa Pilpres di MK sudah terkirim ke redaksi.

Baca Juga : Hujan dan Angin Kencang, Atap Plafon Terminal Keberangkatan Bandara Syamsuddin Noor Jebol

Saya, pendemo, dan tak terkecuali pasukan TNI/Polri mencari tempat berlindung. Saya memilih masuk ke ruang bawah tanah museum, di belakang patung berbentuk pusaran yang ikonik. Karena lebih mudah dicapai dari halaman depan. Mulut depan ruang bawah tanah itu beratapkan kaca. Di dalamnya mirip basement parkir. Di sana sudah berjejer velbed atau tandu darurat yang dipakai pasukan TNI untuk beristirahat.

Saya awalnya agak sungkan. Karena hanya saya satu-satunya yang bukan bagian dari TNI di basement itu. Beruntung beberapa di antara mereka mau mengajak saya bicara. “Akhirnya kita dapat bala bantuan dari langit ya... he-he-he,” kelakar salah seorang anggota TNI yang berdiri di samping saya sambil menatap hujan turun, membuka pembicaraan.

Pria yang berkaos loreng bertulis Kostrad itu mengaku bersyukur. Hari pertama sidang di MK bebas dari kerusuhan. Ia juga membantah video yang sempat menyebar di grup-grup Whatsapp yang menyebutkan adanya aksi massa pada malam hari di MK sebelum sidang. “Nggak ada tuh, sepi-sepi aja sejak semalam. Adanya cuma sekuriti, itu lah dia kawan ngopi kita semalam,” lanjutnya.

Baca Juga : Rajut Kerukunan Lewat Gebyar Budaya Nusantara

Kondisi jalanan di sekitar Gedung MK memang lengang. Sebab, semua mulut jalan yang mengarah ke MK sudah disumpal habis. Yang paling ketat terlihat di depan museum. Ada dua lapis blokade. Masing-masing berjarak sekitar 15 meter. Setiap lapisnya ditutup dengan road barrier atau pembatas jalan beton dan kawat berduri.

Di lapis kedua, selain road barrier dan kawat berduri, di belakangnya ditambah mobil barikade Brimob yang bisa merentangkan pagar besi setinggi dua meter lebih, baracuda, dan water canon. Walhasil, massa sejak pagi hanya terkonsentrasi di balik barikade Brimob itu. Tak ada yang berhasil menembus blokade. Kecuali wartawan, berkat kartu keramatnya.

Selain itu, tukang kopi juga berhasil menyusup. Merekalah yang ikut menyelamatkan perut dan rasa kantuk petugas keamanan. Hujan berlangsung lumayan lama. Saya absen shalat Jumat hari itu. Nyaris tidak ada yang nekat keluar dari mulut basement menuju masjid. Selain karena saya tidak tahu persis lokasi masjid terdekat, keluar sedikit saja dari basement akan membuat basah kuyup.

Baca Juga : Ahokers Panas Dingin Nih ...

Anggota Kostrad, teman ngobrol saya tadi, juga hanya tahu letak mushala. Posisinya di basement sebelah. Setelah hujan mereda, atsmosfer Jakarta terasa sejuk. Wajah-wajah Brimob yang biasanya sangar, terlihat lebih adem dari biasanya. Bahkan, ketika saya menyusuri ujung blokade jalan di depan Kantor Kementerian Dalam Negeri, beberapa di antaranya menyapa, melempar senyum dan bahkan mengajak ngobrol.

Namun, saat saya mencoba mengulik informasi, mereka mengelak. “Nggak mau kasih tahu ah, nanti diberitain,” canda sang Brimob sambil tertawa lebar. ***