Sistem Zonasi Bikin Kaget Dan Ketar-Ketir

Ngopi - Sistem Zonasi Bikin Kaget Dan Ketar-Ketir
Catatan : DEDE HERMAWAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ribut-ribut soal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi seakan tidak pernah habis. Bagi orang tua murid yang anaknya baru lulus dan ingin melanjutkan ke sekolah negeri mulai dari tingkat SD, SMP maupun SMA seakan sistem zonasi menjadi momok.

Rupanya, hal itu dialami Sudani yang sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga di tempat adik saya. Sudani mengaku dipusingkan saat anaknya Megawangi mau mendaftar ke SMP Negeri yang ditujunya. Dia terpaksa cuti kerja sehari demi mengurus persiapan dan persyaratan anaknya sekolah.

Sudani sadar, nilai NEM yang diraih anaknya saat ujian negeri (UN) tidak terlalu tinggi yaitu rata-rata 7,4. Tapi semangat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri tidak pernah patah. Saat pendaftaran zonasi dibuka, Sudani buru-buru ke warnet untuk mendaftarkan secara online. Maklum, kata Sudani, suaminya sibuk sebagai ojek online.

Baca Juga : Polisi Buru Pemilik Mobil Yang Males Bayar Pajak

Sebelumnya, Sudani berpikir, sistem zonasi lebih pada jarak sekolah dengan rumah. Maka dia mendaftarkan Megawangi di tiga sekolah pilihan yang jaraknya dekat dengan rumah di sekitar Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tapi yang bikin kaget, tepat di hari pertama pendaftaran, nama Megawangi terlempar dari pilihan pertama. Beberapa jam kemudian, giliran terlempar dari pilihan kedua.

“Pagi namanya masih ada di sekolah pilihan pertama. Ehh, sorenya sudah terlempar dari pilihan ketiga,” katanya. Sudani tidak patah semangat. Selama proses pendaftaran belum ditutup, masih diberi kesempatan untuk mendaftarkan ulang ke sekolah-sekolah lain. Malam harinya Sudani kembali ke warnet untuk daftar ulang dengan bermodalkan nomor password dan token yang sudah dimiliki saat daftar pertamakali.

Dia mengisi tiga sekolah pilihan yang dituju. “Alhamdulillah, setelah pendaftaran ditutup, anak saya diterima dipilihan kedua yaitu SMP Negeri di wilayah Jeruk Purut,” ujarnya dengan nada plong. Wajah sumringah tidak bisa ditutupi dari raut wajah Sudani saat bercerita dan keluh kesah soal sistem zonasi yang diterapkan pemerintah. 

Baca Juga : Perbaikan Jalan Rusak DKI Jangan Cuma Tambal Sulam

Bagi Sudani, masuk sekolah negeri adalah tujuannya. Alasannya sederhana, selain gratis, Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang diterima Megawangi saat SD bisa digunakan kembali untuk keperluan sekolahnya. Sudani mengaku, KJP sangat membantu bagi keperluan anaknya mulai dari seragam sampai perlengkapan sekolah. Ditambah, ada uang saku dan transport setiap bulan.

Kembali ke soal zonasi. Keresahan sistem zonasi bukan hanya dirasakan Sudani. Masih banyak ribuan orang tua yang resah atas sistem zonasi. Pertanyaanya, sistem ini sesuai implementasi atau tidak? Bagi pemerintah, sebenarnya tujuan Mendikbud menerapkan sistem zonasi sangat baik yaitu pemerataan kualitas sekolah dan pendidikan.

Sehingga murid bisa ke sekolah disekitar rumahnya dengan jalan kaki atau bis sekolah. Tapi, yang bikin Sudani kaget, sistem zonasi bukan dari jarak yang dilihat. “Tetap saja, yang menentukan nilai NEM juga,” cetus Sudani. ***