Sekolah Favorit

Ngopi - Sekolah Favorit
Catatan : MELLANI EKA MAHAYANA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tak terasa, mau enam tahun saja putra saya duduk di bangku sekolah dasar. Hebohnya pilih-pilih sekolah baru, seperti para mama-mama yang dituangkan di media sosial mungkin akan saya alami juga tahun depan.

Ada yang mengeluhkan anaknya tak bisa sekolah favorit. Ada yang komplain telah terjadi ketidakadilan di bidang pendidikan. Bahkan ada yang khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Bagaimana tipe saya menanggapi hal ini? Mungkin akan berbeda dengan para kebanyakan mama-mama. Sebab, saya sudah melewatinya enam tahun lalu. Ketika itu, putra saya mau masuk Taman Kanak Kanak (TK). 

Baca Juga : Pertamina Hulu Mahakam Raih Sertifikasi Manajemen Anti Penyuapan

Sekolah favorit tak jauh dari rumah, menolak menerima putra saya. Ada dua TK yang kami lamar pada 2013 itu. Sekolah pertama menolak mentah-mentah. Setelah mengikuti tes. Kesimpulannya, mereka hanya menyediakan dua “bangku” untuk anak yang setipe anak saya. Menurut gurunya, anak saya itu susah dikasih tahu. Dia mencontohkan, ketika masuk ruangan, anak saya masuk lewat jendela, bukan melalui pintu sebagaimana yang dilakukan anak lainnya.

Guru khawatir polah putra saya bakal ditiru anak lain Sekolah kedua juga menolak. Tapi memberikan alternatif. Si anak bisa masuk asal mau menggaji guru pendamping. Alasannya, putra saya masih eksplorasi. Tentunya bakal mengganggu jalannya kelas jika hanya mengandalkan guru yang ada. Jika ada guru pendampingi, putra saya bisa masuk kelas.

Baca Juga : ACC Luncurin Seamless Digital Experience

Guru itu bisa melayani putra saya saja. Istilahnya shadow teacher. Jika saya setuju, ini artinya biaya untuk pendidikan nambah. Bagi saya, biayanya seperti masuk perguruan tinggi negeri yang lulus tes nasional. Saya tak bisa menerima pengeluaran sebanyak itu. Toh lulus dari sana, dia tetap disebut anak TK. Saya belum menyerah. Saya masih mencari sekolah favorit. Dapat juga. Agak jauh, sekitar 8 kilometer dari rumah. Masuknya pakai tes IQ.

Putra saya diterima. Janji saya ketika itu, jika ditolak juga, si bocil akan dimasukin sekolah yang biasa saja. Asal mau menerimanya. Saya tak mencoba TK nonfavorit, karena pengalaman. Ketika mencoba sekolah PAUD. Hanya sepekan saja. Lalu, masuk TK kecil berhenti dalam tujuh hari. Selama di sana, orang tua yang capek, karena anak dibiarkan seenaknya. Ya pembiaran.

Baca Juga : Seret Penjahat Masker Ke Pengadilan!

Temannya belajar. Anaknya main pasir. Kadang- kadang mainin air keran. Tapi ini mungkin bagus ya. Cuma tidak ada pengawasan khawatir bahaya. Ya kadang saya pikir sekolah yang pantas buat anak-anak yang seperti anak saya itu mahal. Hanya terjangkau kalangan atas. Padahal, yang setipe putra saya tak semua dalam kondisi berada. Tak semua bisa bayar uang masuk Rp 40 juta dengan SPP bulanan Rp 3 hingga 5 juta.

Setahun di TK yang mau menerima, sekolah putra saya rampung juga. Gurunya mengingatkan agar saya siap menerima kejutan-kejutan spontan dari anak di dunia yang lebih luas. Sejak itu, saya tak terlalu mementingkan apa merk sekolah. Saya hanya berusaha ada ketika dia membutuhkan. Karena nggak banyak orang yang se-frekuensi dengannya. Dan memahaminya. ***