Mas Yanto, Inspirasi Saya

Catatan : SISWANTO

RMco.id  Rakyat Merdeka - Inspirasi hidup, bisa datang dari siapa saja. Tak selalu motivator handal, pengusaha sukses atau pejabat. Atau mungkin sibuk googling di internet dan habiskan berjam-jam nonton youtube. 

Mas Yanto bagi saya adalah inspirasi. Dari dirinya, saya bisa belajar bersyukur. Dia adalah penyandang disabilitas. Lebih tepatnya, tuna netra. Sejak umur 2 tahun, matanya tak bisa lagi melihat. Kegelapan sudah akrab dengannya sampai usianya kini mencapai 40 tahunan. Dia tak mau komersilkan kekurangan yang dimiliki. Jadi pengemis di pinggir jalan atau ke rumah-rumah.

Sehari-hari, dia gantungkan hidup dengan berjualan. Kerupuk Bangka dan Kerupuk Palembang, jadi sumber hidupnya selama hampir 6 tahun ini. Menunggu di pinggir jalan, atau berjalan dari komplek ke komplek. Kebetulan, Mas Yanto ini tinggal tidak jauh dari rumah saya. Di daerah Seroja, Bekasi.

Berita Terkait : Kasus Petral, KPK Garap 4 Saksi

Dia tinggal bersama istri dan 3 anaknya pada kontrakan tiga petak. Di kontrakan ini, dia mengaku sudah tinggal hampir 4 tahun. Kalau lagi libur, saya termasuk salah satu pelanggannya. Selain Mas Yanto, ada sekitar 10 orang yang juga tinggal di daerah kontrakan itu. Semuanya bernasib sama ; penyandang tuna netra. Pekerjannya juga sama, yakni jualan Kerupuk Bangka dan Kerupuk Palembang.

“Kita memang biasanya berkelompok. Ada yang 10 orang, ada juga yang lebih,” jelas Yanto. Untuk berdagang, Mas Yanto hampir tidak pernah libur. Semangatnya luar biasa. Dia baru berhenti dagang, kalau lagi sakit. Setiap hari, sejak pagi hingga malam dia jajakan dagangannya. Pada saat musim hujan, Yanto tetap nggak libur. Kalau tidak neduh, dia siasati pakai jas hujan. Kalau bawa payung, tentu ribet.

Tangan yang satu sudah dipakai untuk pegang tongkat penunjuk jalan. Satu tangan yang lain untuk panggul dagangan, Kerupuk yang dijualnya, bukan hasil buatan sendiri. Ada orang yang seminggu dua kali ngedrop ke kontrakannya. Mas Yanto cs hanya mengambil keuntungan dari tiap bungkus kerupuk yang dijualnya. Kalau lagi ramai, Mas Yanto bisa menjual hingga 20-25 kerupuk setiap harinya.

Berita Terkait : Golkar Serap Aspirasi Guru

Nanti untung yang didapatnya, bisa Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu. “Alhamdulillah, bisa buat makan sehari-hari dan biaya sekolah anak,” katanya tertawa. Bisnis kerupuk dipilih, karena dianggap cocok bagi orang seperti dirinya. Kerupuk jenis dagangan yang tidak perlu keluar tenaga ekstra untuk membawanya. Selama bungkus tidak ada yang bolong, kerupuk bisa tahan lama. Bisa distok, tanpa takut basi.

Apalagi, hampir setiap orang, pasti suka kerupuk. Sebenarnya, Yanto tak pernah berpikir menggantungkan hidup dengan jualan kerupuk. Dulu, Yanto cari duit dengan jual keahilan yang dimiliki. Sebagai tukang pijit. Bahkan dia sampai ikut semacam kursus pijit hingga dapat sertifikat untuk buka praktek.

Namun bisnis pijit tradisional ternyata kurang menjanjikan beberapa tahun terakhir. Hampir di setiap sudut pemukiman, ada kios-kios yang menawarkan jasa pijit. Belum lagi yang lebih modern. Yanto merasa kalah bersaing. Akhirnya, dia pun memutuskan banting stir. Kebetulan, sebelum dirinya, sudah banyak penyandang tuna netra lain yang terjun ke bisnis kerupuk. Dia ikuti jejak itu. 

Baca Juga : Adinia Wirasti Kesengsem Putra Arnold Schwarzenegger

Awalnya selingan sambil menunggu pelanggan. Tapi sekarang, profesi pijit sudah benar-benar ditinggalkannya. Banyak kisah menarik yang sering diceritakan Mas Yanto kalau saya sedang membeli. Mulai dari yang sedih sampai yang duka. Dapat uang palsu, dicurangi untuk uang kembalian sampai keserempet kendaraan. Tapi banyak pembeli yang memilih tidak ambil uang kembalian. Yang penting terus bersyukur dan berusaha, gitu katanya. ***