Xenomania

Catatan : UJANG SUNDA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebagian dari kita mungkin sudah tahu arti kata “xenomania”. Sebagian lagi mungkin baru dengar. Untuk yang baru dengar, nggak usah minder. Saya juga sama. Kata ini memang sangat jarang digunakan masyarakat kita. Saya baru mendengar kata ini saat mengikuti pelatihan bahasa di Pusat Bahasa dan Perbukuan, bulan lalu. Di sini, saya ingin sedikit berbagi arti kata ini dengan yang sama-sama baru dengar.

Dalam KBBI, xenomania didefinisikan sebagai kesukaan yang berlebihan terhadap segala sesuatu yang asing (berasal dari luar negeri). Kata ini kebalikan dari “xenofobia”, yang berarti perasaan benci terhadap orang asing atau sesuatu yang belum dikenal.

Berita Terkait : Inflasi Juli Terkendali


Meski kata “xenomania” kurang populer di masyarakat, tapi penerapan artinya sudah sangat banyak dilakukan. Lihat saja, sebagian masyarakat kita terlihat amat bangga kalau menggunakan barang-barang impor, silau dengan kemampuan orang asing, atau merasa lebih keren jika menggunakan bahasa asing. Tapi, saya tidak akan membahas semuanya. Di sini, hanya akan sedikit mengupas xenomania dari segi penggunaan bahasa. 

Sifat xenomania ini telah menjalar ke semua kalangan. Tidak hanya di masyarakat biasa, tapi juga di kalangan pejabat. Lihat saja, beberapa pejabat kita begitu senang menggunakan istilah asing saat bicara di depan publik. Termasuk juga saat menyampaikan berpidato resmi. Untuk kata yang belum ada padanannya, mungkin bisa dimaklumi. Tapi untuk kata sudah ada padanannya, rasanya kurang sreg saja. Padahal, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 24/2009 sudah dengan tegas menyebutkan, Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato pejabat, baik di dalam maupun di luar negeri. 

Berita Terkait : IMF Sebut Ekonomi RI Baik, BI Happy

Sifat xenomania juga marak ditemui di kalangan pengembang. Bahkan bisa disebut sangat banyak. Hal ini tampak jelas dari nama-nama yang mereka gunakan untuk kompleks perumahan yang mereka bangun. Saat ini, kita sudah tidak mendengar lagi nama “Perum” atau “Perumnas” untuk kompleks perumahan baru. Yang ada adalah “Village”, “Cluster”, dan sejenisnya. Itu untuk nama depannya. Nama belakangnya juga aneh-aneh. Semua berasal dari luar. Rata-rata dari Eropa dan Amerika. Tidak ada nama Indonesianya. 


Demikian juga untuk pusat perbelanjaan. Sekarang, kita sudah sangat jarang mendengar kata “Pasar Swalayan” atau “Toserba”. Yang ada hanya “Mall” dan “Trade Center”. 

Berita Terkait : Ranking Garuda Merosot Dalam Daftar Skytrax

Jika merujuk ke UU 24/2009 tadi, penggunaan kata-kata asing tadi tidak dibenarkan. Sebab, dalam Pasal 36 Undang-Undang tadi disebutkan bahwa nama geografi, bangunan, gedung, jalan, apartemen atau pemukinan, perkantoran, kompleks perdagangan, dan lain-lain, wajib menggunakan Bahasa Indonesia. Namun, pelanggaran itu dibiarkan saja. Ya, bagaimana mau mengoreksi pelanggaran tersebut, jika sebagian pejabat kita juga punya sifat xenomania.

Dalam pelatihan bahasa itu, saya juga diingatkan dengan kalimat yang sungguh dalam maknanya. “Bahasa adalah jati diri bangsa”. Jika bahasa itu tidak digunakan lagi, lama-lama akan hilang. Jika bahasanya hilang, lama-lama bangsanya juga akan hilang.
 

RM Video