Teh Talua Demokrasi

Ngopi - Teh Talua Demokrasi
Catatan : AULIA DARWIS

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ajo, begitu biasanya penjual makanan dan minuman di sudut pasar Kampung Baru ini dipanggil. Tangannya lincah mengaduk telur ayam kampung dan gula pasir dalam gelas dengan seikat lidi kecil. Setelah mengembang, telur kampung disirami air teh panas. Terakhir minuman ini ditambahi susu kental manis.

Jadilah dia teh talua atau teh telur. Bentuknya menarik. Dari gelas bening itu terlihat ada tiga lapisan. Pada lapisan atas dilapisi busa, bagian tengah berwarna hitam dari teh, dan bagian dasarnya berwarna putih dari susu kental.

Rasanya? Bukan main lezat, kalau menurut lidah saya. Menyegarkan. Badan terasa hangat. Kalau masih lapar, tersedia santapan khas lainnya yakni goreng pisang ketan. Ada juga lontong atau ketupat sayur. Ini warung langganan saya ketika pulang pagi dari kantor, sambil menunggu pesanan ayam potong di lapak sebelah.

Baca Juga : PM Malaysia Pengganti Mahathir: Ayah Bugis, Ibu Jawa

Teh Talua atau teh telur ini merupakan menu wajib di lapau atau warung tradisional dan restoran Padang. Biasanya minuman ini dihidangkan buat para petani yang hendak meladang, sebagai penambah stamina kerja. Atau disuguhkan kepada pengantin muda yang hendak punya punya anak. Biar stamina kuat, aliran lancar dan kental, kata orang-orang tua dahulu. Biar lebih bergizi, minuman ini kadang ditambahi madu dan buah pinang. Khasiatnya lebih greng.

Menu andalan di warung Ajo begitu diminati para perantau. Kebetulan hari itu Sabtu, akhir pekan. Kedai kecil dilengkapi dua meja dengan kursi panjang itu terisi penuh. Ajo lebih banyak diam, berkonsentrasi membuat teh talua. Yang berisik adalah tamunya. Penuh tawa dan obrolan. Karena memang warung ini, seperti lapau di kampung halaman, menjadi tempat kumpul. Kadang menjadi arena diskusi hangat.

Yang dibahas mulai dari masalah kecil hingga topik-topik nasional. Segala pikiran dan unek-unek tumpah. Debat panas politik menjadi hal biasa. Ini demokrasi, seru mereka. Apa saja boleh diomongin. Kebebasan berbicara.

Baca Juga : Mantap Nih! Beragam Mainan Bertabur Diskon Di The Jakarta Toys

Sejumlah pria paruh baya saya lihat duduk semeja. Perbincangan diawali basa-basi menanyakan kabar dan sekolah anak. Topik berlanjut ke masalah pemilu. Salah seorang dengan semangat berbicara soal siapa calon pemimpin yang bakal dipilihnya. Mulai menarik. Setiap pembicaraan selalu ditimpali dengan tanggapan yang bikin lucu. Sehingga pembicaraan jadi penuh gelak tawa. Hal-hal yang serius bisa jadi cair.

Di meja lain juga asyik bicara topik hangat. Sambil menyeruput minuman hangat, teman saya bercerita soal kegiatannya membantu para caleg. Dia jadi pengumpul massa alias pemilih yang bakal diarahkan mencoblos calon tertentu.

Tentu ada harga atas jasanya mendapatkan massa pasti. Ah, selalu saja ada topik menarik di perbincangkan setiap hari. Suatu ketika, saat saya duduk sendiri, datang seorang pencinta teh talu ini. Dari jauh dia datang khususnya untuk nyarap teh talua dan goreng pisang kepok. Ngobrol ngalor ngidul, ternyata dia seorang tokoh di grup WhatApp khusus pakar bahasa yang saya ikuti. Di dalam grup, tulisannya dahsyat, ternyata ketika berpapasan di dunia nyata, rupanya dia orang yang ramah.

Baca Juga : Hari Ini, Persija Tarung Lawan Borneo FC di Shopee Liga 1

Saya jadi beroleh manfaat, sosialisasi tradisional dengan nongkrong di warung itu gunanya juga. Menambah teman. Meredakan ketegangan. Apalagi di era media sosial yang memanas ini, penuh dengan perseteruan kubu pendukung ini itu, kadang kita memang perlu relaksasi dengan cara indah. Duduk, kopi, ngobrol, dan tertawa. Tidak boleh marah.