Lapak Online Beri Berkah Pedagang Sapi

Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sabtu pekan lalu, saya berkunjung ke lapak penjualan sapi di daerah Kelapa Dua, Cimanggis, Depok. Pedagangnya merupakan teman saya yang pernah menjadi guru di salah satu sekolah swasta tempat kami menuntut ilmu dulu. 

Namanya Faris Abdullah Syafii. Saya biasa memanggilnya Bagol. Dia itu kawan saya yang piawai menjual apa pun. Menjelang Idul Adha ini, dia kembali ke profesi yang turun menurun digeluti keluarganya, berjualan sapi serta kambing. 

Saat ke lokasi penjualan sapi, saya disambut Bagol bersama dua saudarannya, Abu dan Ilyas. Kedua orang itu, kata Bagol, lebih lihai dalam menjual sapi. Sebab, dia lebih dulu bermain sapi dibandingnya. Bahkan memasuki Lebaran Haji, keduanya selalu banting setir menjadi marketing sapi milik saudaranya itu. Tidak hanya itu, keduanya sudah malang melintang di dunia "persapian". Hingga daerah-daerah penjual sapi dengan harga murah tapi berkualitas, keduanya tahu.  

Berita Terkait : Pelni Kampanyekan Check In Mandiri Kepada Penumpang

Menariknya, Bagol dan kedua saudaranya ini berjualan di rumah mewah yang posisinya di dalam kompleks. Padahal, yang biasa saya lihat pedagang sapi itu berjualan di trotoar. Hal ini menimbulkan pertanyaan buat saya.


"Gol ini rumah gede bangat. Punya siapa dah?" tanya saya kepadanya sembari menyeruput kopi yang disediakannya. "Ini rumah yang punya, Mam. Tuh orangnya (mengarahkan tangannya ke seseorang yang baru keluar dari rumah dan memakai topi). Semua sapi ini juga punya dia," jawabnya.

Ditunjuk oleh Bagol, orang tersebut langsung menyapa saya. "Siapa lagi ini, Gol. Udah punya kartu tanda anggota (KTA) belum. Kalau ke mari, mesti punya KTA," candanya. Seisi rumah itu pun tertawa. Saya pun hanya menimpali cengengesan. 

Berita Terkait : Jualan Online Makin Sulit

Taksiran saya, rumah itu seharga Rp 3-4 miliar. Harga tersebut belum termasuk pabrik tahu yang persis berada di bawah rumahnya. Sehari-hari, sapi pemilik saudaranya Bagol itu diumpani ampas tahu. Makanya ada sejumlah sapi yang dijual hasil dari ternak tersebut. "Ada beberapa yang beli di luar tapi kebanyakan hasil ternak sendiri, Mam. Kan ada lapak tuh di bawah untuk ternak sapi. Sayanglah Mam ada ampas tahu tapi enggak dimanfaatin," jelasnya.

Sebenarnya bukan itu yang saya ingin tanyakan ke dia. Namun soal penjualan sapi yang terbilang di kawasan kurang strategis. Di lokasi itu Bagol berjualan baru sepekan. Meski baru, dia mengaku sudah mampu menjual empat ekor sapi. Saya pun tercengang mendengarnya. "Ko bisa. Kan tempatnya di pedaleman gini," ungkapnya. 

Bagol memang piawai. Pria berusia 24 tahun ini memanfaatkan media sosial untuk memasarkan dagangannya itu. "Kan jualannya lewat medsos, Mam. Lihat aja Facebook, Instagram, dan status WhatsApp saya, semua tentang sapi," ucapnya. 

Berita Terkait : Soal Ganjil Genap, Pengecualian Taksi Online Cuma Bikin Masalah Baru


Khoirul Umam, Wartawan Rakyat Merdeka