Rombongan dari Tegal

Catatan : MUHAMMAD RUSMADI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Abdil Karim rada kebingungan. Saat sekitar pukul 03.00 suatu dini hari, dia datang ke sebuah masjid di dekat rumahnya.

Suasana mulai di halaman masjid yang memang luas itu, dia lihat berbeda dari biasanya. Sejumlah anak kecil asyik bermain, berlarian.

Ini dini hari! Tiga buah mobil memang terparkir di salah satu sudut parkiran. Karim pun berpikir, mungkin ada rombongan yang kemalaman dalam perjalanan. Lalu numpang beristirahat di masjid. Tapi ini tak biasanya.

Baru pertama kali ini dia lihat. Masjid itu memang sengaja dibikin tanpa daun pintu. Tanpa daun jendela. Terbuka begitu saja. Kata pihak masjid satu ketika, supaya siapapun bisa datang kapan saja untuk beribadah.

Beda memang dari kebanyakan masjid yang umumnya dikunci di luar jam-jam shalat. Bukan tanpa alasan. Karena kotak amal di masjid, atau speaker, soundsystem masjid hilang, itu sudah jadi berita sehari-hari.

Berita Terkait : Bak Langit dan Bumi

Tapi masjid ini di antara yang sedikit, yang mau mengambil risiko itu. Tentu dengan menambah pengamanan di sisi-sisi tertentu. Selain itu, toilet dan kamar mandi khusus pun disediakan. Lebar. Nyaman. Banyak pula. Ini juga yang mungkin membuat orang sering mampir. Meski sekadar numpang ke toilet.

Atau ke kamar mandi. Bukannya shalat. “Nggak masalah. Yang penting sumbangan jamaah pasti akan tetap bernilai ibadah. Meski hanya menolong orang yang kebelet. Atau kehabisan air karena sumur di rumahnya kering. Kan ibadah juga,” kata seorang jamaah, di kesempatan berbeda.

Ini pula, sekali lagi agaknya yang membuat rombongan 3 mobil di parkiran itu mampir. Begitu Karim menduga-duga. Benar saja. Begitu dia masuk ke ruang utama masjid di lantai dua, sejumlah orang dewasa “bergelimpangan” tertidur.

Tampak jelas. Mereka kecapekan dan sedang menikmati beristirahat di karpet masjid yang memang empuk. Beberapa ibu-ibu malah ada yang sedang menyusui bayi sambil tiduran.


Sambil menuju ke shaf depan, Karim menghampiri beberapa anak muda yang tampak sedang ngobrol. Menanyakan, ini rombongan dari mana. Seorang anak muda dengan sopan menjawab, mereka semua keluarga besarnya.

Berita Terkait : Permainan Asing di Tanah Papua

Sengaja, satu rombongan datang dari Tegal. Lalu numpang istirahat di masjid. “Kebetulan besok saya diwisuda. Jadi ini keluarga semua dari kampung. Mau menghadiri wisudaan,” ujarnya.

Sambil mengangguk-angguk, Karim tersenyum dalam hati. Dia turut merasakan kebahagiaan keluarga besar ini. Kebanggaan di hati mereka pun turut dia rasakan.

Betapa tidak. Sekeluarga besar. Konvoi dari kampung. Demi menghadiri wisuda anak mereka. Tak masalah meski nginap istirahat gratisan di masjid.

Karena memang, tak jauh dari masjid, terdapat sebuah kampus swasta yang awalnya hanya dibangun di tingkat kecamatan. Namun kemudian berkembang pesat. Konon, karena biaya perkuliahaannya yang amat sangat terjangkau.

Hingga makin terkenal dan terus berkembang pesat. Gedungnya kian mentereng. Mahasiswanya pun lintas provinsi. Ada pula sejumlah mahasiswa asal Papua yang dikirim kuliah di sana!

Berita Terkait : Ronaldo Bebas dari Tuduhan Perkosaan

Semua soal kesederhanaan. Kebersahajaan. Tentu bukan berarti dengan kualitas asal-asalan. Di saat banyak orang pusing memikirkan biaya kuliah anak-anak mereka.

Bagi masyarakat yang benar-benar tidak mampu, mungkin bisa tertolong dengan fasilitas ‘keterangan tidak mampu’. Namun mereka yang “nanggung”. Miskin tidak. Kaya juga masih jauh. Banyak pula yang puyeng!

Tak mungkin mengaku miskin. Karena memang punya penghasilan. Di atas garis kemiskinan. Tapi dibilang kaya, juga pusingnya minta ampun. Terutama saat sang anak ternyata ingin masuk kampus yang “terkenal” karena “dianggap” berkualitas.

Namun gugur di seleksi “berbiaya murah”. Untuk opsi terakhir inilah seperti nya, tak sedikit masyarakat yang kemudian berbondong-bondong memasukkan anak mereka ke kampus yang tak mesti ter kenal. Yang penting terjangkau. Selama bukan murahan alias abal-abal.***