Disaksikan M Natsir

Catatan : ABDUL SHOMAD

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bismillahirrahmanirrahiim

Esokmu Telah datang

Dunia & Akhirat harus kau buat seimbang

Kami sumbangkan Gedung ini untuk Umat

Berita Terkait : Pertamina Operasikan BBM Satu Harga Di Nias

 

Kalimat pembuka di atas merupakan kalimat yang tertulis dalam prasasti gedung Taman Kanak-Kanak [TK] Islam Toledo, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Susunan katanya tak saya ubah. Pun peletakan huruf kapital. Saya tulis apa adanya.

Prasasti ini ditempelkan di dinding gedung. Persis di sisi kiri pintu masuk. Di bagian bawah. Di tulis di atas batu marmer.


Kalimat prasasti itu biasa-biasa saja. Tapi, pesannya luar biasa. Keseimbangan dunia dan akhirat. Sejalan dengan hadis Nabi tentang keseimbangan ‘perburuan’ dunia dan bekal akhirat. “I’mal lidunyaka ka annka ta’isyu abadan, wa’mal liakhirataka ka anaaka tamutu ghodan.”

Berita Terkait : Dosenku Sayang, Dosenku Malang

Kini, setiap pagi saya ke sini. TK Islam Toledo. Mengantar si bungsu sekolah. Kecuali hari Sabtu dan Minggu. Libur. Alaric Abdillah Kaffa, anak saya yang terakhir (sampai sekarang) ini, langsung masuk TK B atau 0 Besar. TK A dilewat. Efisiensi biaya. Hehehe...Usianya sih sudah cukup.

Menariknya lagi, di batu prasasti itu, tertulis tokoh-tokoh besar. Ada lima nama tokoh. Empat di antaranya sangat mashur. Dua di antaranya pahlawan nasional. 

Di urutan pertama, Mohammad Natsir. Kedua, KH Abdullah Syafi’i, Ketiga, KH Nur Ali. Keempat, KH Sholeh Iskandar. Dan kelima, Rhoma Irama. Kelima tokoh ini, bersama muslimin dan muslimat, menjadi saksi gedung ini dibangun. Di batu prasasti tertulis, tertanggal 4 Maret 1984 atau 1 Jumadi Tsaniyah 1404, diresmikan oleh Drs H. Oemar Syah S.

Batu prasasti itu menjadi bukti bahwa Natsir, Nur Ali, Abdullah Syafi’i dan Sholeh Iskandar serius ingin mempersiapkan generasi penerus bangsa ini. Bahkan, dari level yang paling dasar. Taman kanak-kanak. 

Berita Terkait : Pertamina Resmikan BBM Satu Harga Di Aru

Nama M Natsir, mungkin yang paling mencolok di prasasti itu. Politisi Masyumi ini kerap bersinggungan dengan Bung Karno. Bahkan, Soekarno dan Natsir sempat sahut-sahutan dalam artikel di media massa. Terutama soal agama dan negara.

Soekarno pernah menulis artikel di Pandji Islam, 1940 “Apa Sebab Turki Memisahkan Antara Agama dan Negara,” “Masyarakat Onta” dan “Masyarakat Kapal Udara”. Natsir menjawab dengan artikel “Cinta Agama dan Tanah Air,” “Rasionalisme dalam Islam,” serta “Persatuan Agama dengan Negara.” Artikel ini dimuat di Majalah Al Manaar dan Pandji Islam. 
Natsir memang pejuang sejati Islam. Tapi, Natsir juga sangat nasionalis. Buktinya, ketika ketegangan antara pendukung Islam dan bukan Islam dalam dasar negara, Nasir lah yang mengajukan mosi integral dalam sidang pleno parlemen pada tanggal 5 April 1950. Dan berhasil. Mosi integral ini berhasil memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI].

Nah, di TK Islam Toledo, sikap-sikap nasionalisme ini diajarkan. Setiap Senin pagi, anak-anak TK ini menggelar Upacara Bendera. Pake hormat bendera. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Dan baca teks Pancasila. Hadir Nasionalisme di sini. Hadir pula Islam di sini. 


Nasionalisme dan keteguhan beragama Islam, tak patut dipertentangkan.