Dosenku Sayang, Dosenku Malang

Catatan : WIDIA SAPUTRA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemilihan legislatif 2019 sudah lama lewat. Bagi-bagi kursi di DPR sebentar lagi dilakukan.

Kalau ngomong DPR, saya jadi teringat seorang wakil rakyat di Senayan. ZM, inisialnya. Dia dosen wali saya saat kuliah di Solo, Jawa Tengah. Orangnya perlente. Beberapa giginya menghitam, karena ZM memang tergolong perokok berat.

Di jam-jam perkuliahan pria yang pernah berprofesi sebagai pengacara itu jarang terlihat di kampus. Sekali pun demikian, dia sangat murah memberi nilai, dan jumlah mata kuliah semester baru yang akan di tempuh mahasiswa asuhannya. “Cepat lulus yo, Lek,” ucapnya saat saya meminta tandatangan formulir persetujuan kenaikan tingkat semester.

ZM merupakan salah satu dosen kebanggaan kami. Beliau satu-satunya dosen kampus kami yang sukses menjadi wakil rakyat di Senayan. Mungkin sudah takdir. Saya ikut menyaksikan kegemilangan dan kejatuhan karier politiknya. Pria, kelahiran Solo itu keluar masuk partai, dan sempat ikut memprakarsai berdirinya partai baru.

Berita Terkait : Hadiah Kejutan Dari Sang Badut

Ikhtiarnya terbayar. Bergabung dengan partai besutan ulama kondang asal Betawi memuluskan langkahnya ke DPR DPR RI periode 2004-2009. Bahkan, ZM duduk di kursi Wakil Ketua DPR. Pada medio itu saya masih wartawan anyar di koran ini.

Sebagai pimpinan parlemen, dan petinggi partai, komentar ZM selalu ditunggu, makanya wajar kalau selalu dikerubutin wartawan.

Tapi jabatan ZM berumur pendek. Dia digoyang dari internal partainya, karena berpoligami. Diserang, ZM malah bermanuver. Dia membuat jagat perpolitikan nasional gaduh dengan membeberkan rumor perkawinan salah satu penguasa saat itu.


Singkat cerita, rumor itu pun diproses secara hukum, karena dianggap fitnah dan mencemarkan nama baik. Saya juga ikut meliputnya, karena saat itu kasus ZM menarik perhatian publik. Apalagi yang dilawan adalah penguasa. Di pengadilan, ZM kalah. Beruntung, dia tidak sampai di penjara.

Berita Terkait : Bangku Panjang

Karier politik ZM belum tamat. Gagal merebut posisi ketua umum partai,ZM pernah beberapa kali mencoba bergabung dengan partai lain. Uniknya, pria penggemar burung itu malah sempat bergabung dengan partai yang pendirinya pernah menjadi seterunya di pengadilan. Dia maju pada Pileg 2009.

Di pileg itu ZM harus bersaing dengan putra kandungnya di dapil yang sama, di Jawa Tengah. Setelah tak lolos, dia mengundurkan diri dari partai yang mengusungnya.

ZM memang cerdas. Dia menjadikan perjalanan politiknya sebagai bahan disertasinya meraih gelar doktor ilmu hukum di kampus, tempatnya mengajar. Jebolan Universitas Gadjah Mada itu dinyatakan lulus dengan hasil yang memuaskan.

Terakhir kali saya bertemu ZM di Gedung DPR, di kawasan Senayan. Siang itu, dia nyelonong masuk ke ruangan press room, mengambil microphone dan meminta atensi kepada para wartawan untuk mendengarkan pernyataan politiknya. Cuma sedikit saja wartawan yang mau meresponsnya.

Berita Terkait : Disaksikan M Natsir

ZM yang menyadari kondisi itu segera menyudahi penjelasannya dan bergegas menuju lobby DPR menunggu mobil jemputannya. Saya kejar dan berhasil ngobrol dengannya.

Saya mengingatkan lagi kalau saya adalah mahasiswanya sambil menanyakan aktivitasnya pasca di luar DPR.

Eks aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini sadar sekarang sudah bukan siapa-siapa lagi. “Ini politik mas, ya wajar saja,” begitu ucapnya datar.


Juli lalu, saya mendapat kabar dari kolega ZM di kampus, AB. Dia bilang, ZM sudah lama tidak mengajar karena sakit. Koleganya yang lain, AFA mengamininya. “Beliau sudah lama sakit. Stroke,” ucapnya. Sungguh memprihatinkan. Saya membatin, begitu mudahnya Tuhan mengubah nasib seseorang.***