Kutukan Ayam

Catatan : ESTI FITRIA WULANDARI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mungkin ada saja orang yang paranoid (parno) terhadap sesuatu. Bisa itu parno terhadap ketinggian, ruangan gelap, atau jenis hewan tertentu. Nah, saya masuk dalam kelompok yang terakhir.

Bulu kuduk bisa berdiri kalau ada ayam yang jaraknya kurang dari 1 meter dari saya. Bahkan terkadang bisa merinding walau hanya sekadar lihat foto ayam di ponsel.

Ketakutan saya terhadap hewan jenis unggas itu memang kedengarannya konyol. Karena yang saya tahu, kebanyakan orang parno terhadap hewan yang menjijikan. Seperti tikus, cacing, ulat bulu, kecoa, cicak.

Berita Terkait : Bangku Panjang

Geli dan jijik, kata mereka. Bagi saya, hewan-hewan itu biasa saja. Tidak ngefek ke saya. Saya berani menghalau atau mengusir mereka, baik itu pakai alat semacam sapu atau dipegang langsung dengan tangan. Tapi jangan suruh saya usir ayam. Karena menatapnya pun saya tak sanggup, hahaha.

Jadi ingat waktu Lebaran kemarin di kampung suami di Pati, Jawa Tengah. Rumah mertua yang berada di pedesaan itu, masih memiliki dapur kotor, yang lantainya tanah. Masaknya masih pakai kayu. Dapur ini dipakai jika mertua sedang memasak makanan yang matangnya membutuhkan waktu lama.


Tak jauh dari tungku, ada satu-satunya kamar mandi di dalam rumah. Sialnya, mertua selalu memasukkan 3-4 ayam hidup yang hendak dipotong.

Berita Terkait : KPK Bukan Akuarium

Alasannya, biar tidak repot mengejar dan menangkapnya lagi di kandang. Diikatnya kaki ayam-ayam itu di dekat kamar mandi. Kalau sudah begitu, saya memilih menahan buang air daripada membayangkan ayam-ayam jago itu melotot ke saya.

Penasaran ya kenapa saya takut terhadap ayam? Dulu, waktu saya masih SD, saya sering jahilin ayam. Nggak usaha dijabarin bentuk kejahilan saya seperti apa, parah banget pokoknya. Tapi yang bikin trauma, dan teringat sampai sekarang, saat saya mau masuk dapur.

Di situ ada seekor ayam nyasar. Dia panik dan terbang sampai nabrak-nabrak dinding. Saya hanya bisa mematung dan melongo. Pasrah kalau si ayam terbang ke arah saya lalu mencakar-cakar muka.

Berita Terkait : Keputusan Jitu Puntodewa

Dari situ saya jadi parno ayam. Bisa jadi ini kutukan ayam karena dulu sering nyiksa kerabat mereka. Tapi yang pasti ini teguran Allah, supaya saya bisa lebih lembut terhadap semua jenis hewan.

Dan Allah masih sangat baik, yang tetap memperbolehkan saya merasakan nikmatnya daging ayam. ***