Sudah Jarang Mangku

Catatan : ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT

RMco.id  Rakyat Merdeka - Duit seret, utang sana-sini, dan butuh hiburan. Tiga topik tadi makin saya sering dengar. Baik saat nongkrong di warung kopi sampai mall. Atau sekadar melihat percakapan di grup-grup WhatsApp.

Ekonomi sulit? Entah ya. Saya malas menjelaskan. Takut nanti dilabeli ‘kampret’ atau kaum ‘02’, capek deh.

Di ponsel saya, ada beberapa grup WA teman-teman sekolah, kerjaan, dan skuad game Sniper3D. Alur obrolan, saya simpulkan sama saja. Setelah obrolan berat seputar politik atau negara, lalu disusul topik soal wanita atau hiburan lelaki.

Berita Terkait : BKS: Tiada Tara, Sumbangan BJ Habibie Di Dunia Transportasi

Yang menarik, banyak yang kangen hiburan malam, khususnya karaoke malam. Sambil diikuti berbagai kata seperti LC, PL, DC, ST, Panlok, dan sebagainya. Kode apaan tuh? Horor. Lihat saja sendiri ya di forum daring yang tidak terkena ‘Internet Sehat’.


Lalu, mereka rata-rata, hanya berani bertanya, ‘Kapan nih?’ atau ‘Kangen mangku’. Responsnya? Meragu dan lambat. Padahal dulu, relatif sering yang cepat menjawab, ‘Yuk’ atau ‘Oke dong’.

Pokoknya kayak auto pilot, berangkat. Balik dunia nyata. Belum saya berjumpa dengan berbagai teman lawyer dan aparat, di kesempatan berbeda Lha kok dilalah, di ujung obrolan, masing masing nyerempet bahasan karaokean.

Berita Terkait : Selamat Jalan, Habibie

Uniknya, saya tak minta diajak. Beberapa kawan justru nyeletuk duluan. ‘Abang udah jarang mangku,” ujar teman A. “Iya dik, kangen tapi gimana ya,’ ucap teman B. “Nanti saja kukontak kalau kerjaan beres,” ceplos teman C. Dalam hati saya bergumam, “Duh gawat banget nih situasi.

Mereka butuh hiburan tapi sudah seret.” Entah kenapa, saya lalu berpikir bagaimana nasibnya para PL atau LC saat ini. Jika pengunjung turun drastis, kasihan juga.

Singkat kata, obrolan saya ini bukan soal moralitas atau halal-haram. Sederhana saja, potret kecil realita hidup saat ini. Kerja kerja kerja? Pastilah. ***