Listrik Bikin Trauma

Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Stres. Listrik bikin trauma. Itulah ucapan yang keluar dari mulut ibuku. Bukan karena beliau pernah kesetrum. Atau tersengat belut listrik. Amit- amit.

Jangan sampai kejadian. Kalau diingat-ingat, ucapannya lebih tepat sumpah serapah. Tapi yang paling terngiang di benakku empat kata itu. Selama tiga hari kami kesulitan karena listrik padam.

Minggu (4/8), listrik di rumah padam mulai pukul 11.55 WIB - 21.00 WIB. Keesokan harinya, tepat jam 6 pagi listrik kembali padam. Baru nyala ketika adzan Maghrib. Kirain sudah beres. Selasa pukul 12.00 WIB listrik padam lagi.

Berita Terkait : Trauma Beruntun

Rasa kesal muncul ketika mendengar daerah lain sudah teraliri listrik. Maklum. Rumah saya di Limo, Depok. Dekat dengan Pusat Pengatur Beban (P2B) Jawa-Bali yang lokasinya di Gandul.

Setahu saya, tempat itu yang ngatur listrik Jawa & Bali. Ini yang kepleset nyampe kok kelewatan. Gara-gara padamnya listrik cucian di rumah jadi menggunung.


Mungkin kejadian ini juga terjadi di rumah-rumah lain. Mau nyuci, khawatir listrik padam. Yang ada cucian malah bau kelaman direndam. Di rumah juga ada bayi. Alhamdulillah-nya dia nggak lagi tergantung ASI.

Berita Terkait : Soal Listrik, JK: Perlu Kepastian Hukum

Namun, betapa banyak orang tua yang harus memompa ASI-nya dan disimpan di kulkas. Kalau listrik- nya padam, basilah ASI itu. Kemarin teman kantor saya cerita.

Tetangganya beli mesin genset. Har- ganya sekitar Rp 2 jutaan. Tujuanya biar kulkasnya taraliri listrik, buat nyimpen ASI. Itu masalah di rumah. Beda halnya cerita pinggir jalan. Kemarin saya lihat ada mobil yang nangkring di mesin hidrolik di sebuah steam.

Bukan lucu-lucuan. Itu karena listrik padam, mesinnya pun tak bisa dijalankan. Belum lagi usaha warnet, atau yang mengandalkan listik lainnya. “Jangan sampai ada tukang cukur yang lagi dapat pelanggan terus listriknya mati. Bisa gerepes itu rambut,” gumamku.

Berita Terkait : Inggris Mati Listrik, Layanan Kereta Lumpuh, Penumpang Ngemper di Stasiun

Sebagai rakyat jelata saya coba curhat ke Presiden. Namun saya juga paham nggak mungkin dapat kesempatan datang ke Istana. Akhirnya saya mention saja akun resmi Presiden @jokowi.

Harapan saya, semoga masalah ini segera selesai. Kalo bisa, jangan terulang lagi. Bisa dibayangkan kalau perang. Tinggal ngebom pembangkit listrik saja, semuanya langsung kelar. ***