Kurban Kota Sentris

Catatan : UJANG SUNDA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gairah masyarakat Muslim untuk berkurban di Idul Adha terus bertambah. Termasuk di Idul Adha 1440 H ini. Hal ini terlihat dari banyaknya hewan kurban yang disembelih. Semoga ini menandakan bahwa masyarakat kita semakin saleh.

Yang berkurban tersebut bukan hanya kalangan mampu. Banyak masyarakat biasa, bahkan yang kekurangan, juga ikut berkurban. Kita tentu sudah mendengar berita di televisi atau membaca di koran dan media daring, ada pemulung menabung bertahun-tahun demi bisa berkurban.

Namun, pelaksaan kurban itu masih berpusat di kota-kota besar. Masih bersifat kota sentris. Sedangkan di kampung-kampung, jumlah hewan kurban masih sedikit. Bahkan, banyak yang kekurangan.

Berita Terkait : Usung Semangat Taawun, IMM se-Bandung Raya Gelar Kurban Bersama


Di masjid-masjid yang ada di kota, hewan kurban begitu berlimpah. Jangankan di masjid besar seperti Istiqlal atau masjid raya lain, di masjid yang ada di kompleks-kompleks perumahaan juga banyak. Di kompleks perumahan saya di daerah Gading Serpong, Tangerang, yang warganya ada sekitar 400 KK, setiap tahun bisa memotong 6 ekor sapi dan sekitar 30-40 ekor kambing dan domba.

Kondisi sebaliknya terjadi di kampung keluarga saya di Karawang maupun di kampung keluarga istri saya di Tasikmalaya. Di Hari Raya Idul Adha kemarin, di kampung istri saya hanya memotong 1 ekor sapi dan 1 ekor kambing. Dari pemotongan itu, dihasilkan 110 kilogram daging sapi dan 20 kilogram daging kambing. Jumlah ini harus dibagi untuk 170 KK yang ada di sana.

"Daging sapi dibagi 170, daging kambing juga dibagi 170. Walau cuma sedikit, semua harus kebagian," kata Haji Amal, sesepuh di kampung situ. Kalau dihitung, berarti 1 KK hanya mendapat sekitar 6 ons daging sapi dan 1 ons daging kambing.

Berita Terkait : Haedar Nashir Ajak Elite Korbankan Ego Demi Kesejahteraan Masyarakat

Itu kondisi kampung yang masih ada di Pulau Jawa. Bagaimana kondisi kampung yang ada di luar Jawa? Bisa jadi, jumlah hewan kurban di sana lebih sedikit lagi.


Untuk itu, di masa-masa mendatang, alangkah lebih baiknya jika sebagian besar hewan kurban itu didistribusikan ke kampung-kampung. Agar berkah dan kegembiraan Idul Qurban juga terasa sampai pelosok.

Saat ini, sudah banyak lembaga yang mendistribusikan kurban sampai daerah. Bahkan, sejak dulu sudah ada yang melakukan pengemasan daging kurban dalam kaleng. Tapi, jumlahnya masih terbatas. Yang mendapat jatah dari daging kurban itu juga masih sangat sedikit. 

Berita Terkait : Ditemani 3 Anaknya, Anies Salat Idul Adha di Halaman Balaikota

Untuk itu, diperlukan gerakan dan kesadaran dari kita. Jika kita merasa kurang afdal berkurban melalui lembaga tadi, kita bisa mendistribusikan sendiri. Caranya, bisa dengan menitipkan pada saudara yang ada di kampung. Saya yakin, semua dari kita punya saudara di kampung. 

Untuk orang kota, terlebih yang tinggal di kompleks-kompleks, jangan terlalu dikhawatirkan. Sebab, mereka sudah sering makan daging. Minimal seminggu sekali makan daging. Sedangkan di kampung-kampung, sebagian besar warganya hanya bisa makan daging 2 kali dalam setahun. Idul Fitri dan Idul Adha. Itu pun jumlahnya sangat sedikit.

RM Video