Kangen Hujan

Catatan : ADITYA NUGROHO

RMco.id  Rakyat Merdeka - "Air saya sudah kering nih di rumah, kapan ya hujan.” Dalam beberapa minggu terakhir kalimat itu sering saya dengar di sekitar rumah saya di Cibinong, Jawa Barat.

Tetangga-tetangga rumah sudah gelisah karena hujan tak kunjung datang. Memang sudah sekitar dua bulan lebih hujan tidak turun.

Warga di sana memang tidak menggunakan air PAM. Semuanya masih menggunakan air tanah. Apalagi air tanah di sini kualitasnya sangat baik. Masih bisa di minum. Kekeringan di daerah ini baru terjadi dalam dua tahun belakangan.

Berita Terkait : Kabinet Bersih

Padahal sebelumnya Cibinong nggak pernah kekeringan. Penyebabnya, banyaknya rumah-rumah baru.


“Saya sudah turunin mesin air, udah kering,” ujar mba Yanti tetangga depan rumah saya. “Tapi udah mau habis lagi,” ujarnya.

Mba Yanti pun terpaksa membeli air dari tetangga sebelah. Musim kering memang tidak selamanya merugikan. Justru gara-gara musim kering, tetangga saya malah untung.

Berita Terkait : Trauma Beruntun

Koh, biasa saja memanggilnya, sekarang sibuk menyalurkan air ketetangga sekitarnya yang membutuhkan air. Tidak ada tarif khusus yang dipa- tok dia untuk membeli airnya.

Dia menerima secara sukarela. Mes ki begitu, dia membatasi waktu pengam bilan air. Pagi dan sore hari. Sedang kan kalau siang tidak. Gara-gara kekeringan tanaman di rumah saya juga ikut kering.

Sebagian malah mati. Sekarang pemandangan depan rumah tinggal pot-pot kering saja. Istri saya pun mengeluh. Hingga kini belum ada tanda-tanda mau turun hujan.

Berita Terkait : KPK, Jangan Dimatikan


BMKG sendiri meramal musim kering tahun ini akan lebih panjang dibanding tahun lalu. Puncaknya sendiri akan terjadi pada Agustus dan September. Jadi sabar ya. Musim hujan masih lama. ***