Agustusan Menanti Pidato Pak Harto

Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di era lalu, jelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus, selalu tampak kesibukan warga. Menghiasi gapura. Memasang bendera merah putih di depan halaman rumah. Memasang pernak-pernik. Lomba menghias permukiman.

Di sekolah, anak-anak murid juga sibuk dengan berbagai perlombaan. Puisi, deklamasi. Lomba nyanyi. Gerak jalan. Dan berbagai perlombaan khas Indonesia. Seminggu atau bahkan sebulan, persiapan dan kesibukan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sangat terasa.

Beberapa hari lalu, seorang kakek, tetangga saya, bertanya apakah sudah dekat hari kemerdekaan. Selama ini kami memanggilnya Babeh. Nama sebenarnya adalah Taufik. Usianya sudah sangat sepuh. Mungkin sekitar 80-an lebih. Namun tidak terlalu pikun.

Berita Terkait : Ibukota Pindah, Boleh, Ibu Negara Jangan

Sudah beberapa sore, sejumlah pedagang bendera menggunakan gerobak melintasi permukiman kami. “Kok ada gerobak-gerobak membawa bendera merah putih?” tanya Babeh. Iqbal, anak tetangga, yang baru duduk di Kelas 2 SD, mencoba menjelaskan, para pedagang bendera merah putih itu sedang menjajakan dagangannya. Ini  momen jelang Hari Kemerdekaan. “Kan bentar lagi mau tujuh belasan,” kata Iqbal.


Babeh seperti tanpa reaksi dengan penjelasan itu. Memang, tak tampak kesibukan dan kemeriahan menyambut 17 Agustusan saat ini. Tidak ada warga yang dengan riang gembira memasang bendera merah putih di depan rumah. Ada satu dua pemukim yang memasang bendera. Pegawai pemerintah.

Zaman kian canggih. Hampir semua penduduk di daerah ini bisa mengakses internet. Bahkan, anak-anak kecil, sangat melek mempergunakan gadget. Informasi mengenai 17 Agustusan sudah bisa ditemukan di sejumlah portal atau situs berita.

Berita Terkait : Tak Terpengaruh Kerusuhan Manokwari, Polda Metro Pastikan Jakarta Kondusif

Dua hari lagi sudah tanggal 17 Agustus. Pemberitahuan dari Ketua Rukun Tetangga belum ada. Biasanya, setiap jelang 17 Agustus,  ada sejenis pemberitahuan menyambut Hari Kemerdekaan dari pihak RT atau RW atau Lurah.

“Kapan 17 Agustus? Apakah tivi bisa dinyalakan? Saya  ingin menonton Pengibaran Bendera Merah Putih.  Mau lihat Presiden, mau lihat Pak Harto pidato,” ujar Babeh. “Jokowi, Presidennya Jokowi, kakek,” ujar Iqbal.

2019, tahun ini, Indonesia merayakan Hari  Kemerdekaannya yang ke 74. Presiden Soeharto sudah meninggal dunia lebih 10 tahun lalu. Pada 27 Januari 2008. Babeh kira tivi masih hitam putih. Babeh kira Pidato 17 Agustus masih dibacakan Pak Harto.

Berita Terkait : Pejabat Merdeka, Rakyatnya Ikut


Jhon Roy P Siregar, Wartawan Rakyat Merdeka