Meski Kalah, Gaya Main Garuda Muda Tetap Oke

Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Nikmat ditonton”. Itu kalimat yang menurut saya pantas diutarakan ke Timnas Indonesia U-18. Meski kalah 4-3 dari Malaysia, namun Garuda Muda menunjukkan permainan yang tidak membosankan.

Selama 115 menit jantung saya dag dig dug ser melihat pertandingan Indonesia U-18 Vs Malaysia U-18, kemarin malam.

Di awal-awal, saya menyaksikan seorang. Di waktu itu, kadang saya teriak, menutup mata, dan memalingkan wajah dari televisi. Ketika kedudukan masih imbang 1-1, putra saya, Zakiy, bangun.

Lalu, ibunya membawanya ke saya. Alhasil ketegangan berkurang lantaran ada kesibukan mengurus Zakiy. Suasana batin lebih cair. Kedua mata tak lagi fokus ke televisi.

Ujaran-ujaran kebencian yang saya ingin lontarkan pun lebih teredam. Tak terasa azan magrib berkumandang. Bukannya salat, saya malah terus menonton. Eh, Indonesia kebobolan.

Berita Terkait : Indonesia Vs Kepulauan Mariana Utara, Garuda Muda Menang Banyak 15-1

Terbesit di hati, coba saya salat dulu, mungkin Indonesia enggak akan kebobolan. Setelah itu, datang istri saya menghampiri Zakiy yang lagi asyik dengan cemilannya.

Alhamdulilah, gol penyama kedudukan tercipta lewat kaki Fajar Faturrahman. Sontak saya berdiri dan berteriak. “Fajar Faturrahman, Fajar Faturrahman, Fajar Faturrahman,” teriak saya sembari menari-menari mengiramakan nama pemain bernomor punggung 14 itu.

Hal ini membuat anak saya kaget dan menangis. Mungkin dikiranya saya sedang marah-marah. Menit 82, Indonesia membalikkan keadaan. Saat gol itu saya dalam keadaan berdiri.


Spontan, saya lempar sekepal sampah makanan anak saya ke televisi sembari menyebut, “Bekham lagi, Bekham lagi.” Namun ternyata bukan Bekham Nugraha yang menjebol gawang Malaysia melainkan Salman Alfarid.

Kegembiraan saya tidak bertahan lama. Sebab Malaysia menyamakan kedudukan lewat titik putih. “Udah apa Sit (wasit) abisin waktunya. Nggak apa-apa dah adu pinalti aja,” gumam saya seorang diri.

Berita Terkait : AS Roma Menang Perdana, Milan Tekuk Verona

Wasit pun meniupkan peluit terakhir tanda berakhirnya bertandingan. Setelah itu, saya langsung salat magrib. Awal, saya kira setelah imbang di waktu normal akan langsung adu penalti. Ternyata tidak.

Maka, setelah salat saya kembali ke depan televisi. “Kok enggak penalti?” tanya saya kepada adik saya, yang saat itu ikutan nimbrung.

“Perpanjangan waktu,” jawabnya. Saya lihat di ruang tamu sudah banyak keluarga berkumpul. Bahkan anak saya saat itu sedang menghisap permen lolipop.

“Mam, anakmu tuh makan permen,” kata ibu saya, mengingatkan. “Bodo amat ah,” jawab saya. “Dasar gila bola, anak sampe terlantar,” semprot ibu saya.

Di extra time pertama, Malaysia kembali mampu membobol gawang Indonesia. Setelah inilah saya mulai menjauh dari televisi dan mengajak Zakiy keluar rumah guna melupakan gol tersebut.

Berita Terkait : Alamak, Garuda Diterkam Harimau Malaya 2-3

Sayang, berniat menjauh dari tontonan bola, tetangga saya malah ramai menyetel televisinya dengan tontonan yang sama. Ya sudah, saya curi-curi kesempatan mengintip Indonesia bermain dari layar televisi milik tetangga.

Pada menit 115, saya paksakan diri untuk menjauh dari tontonan Indonesia bertanding. Saat itulah, meski saya tidak tahu hasil akhirnya tapi saya yakin Indonesia keok dari Malaysia.


Saya buka Instagram dan mengecek akun Pengamat sepakbola, ternyata Malaysia mampu menjungkalkan musuh bebuyutannya. Saya sisipkan komentar di akun tersebut. “Semangat Garuda Muda” dengan emot tepuk tangan. ***