Mencicipi Rokok Bung Karno

Ngopi - Mencicipi Rokok Bung Karno
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seorang petinggi partai nasionalis menawari kami sebungkus rokok putih, saat kami sedang duduk-duduk di meja makan, menunggu pesanan sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam di pantai Jimbaran, Bali. 

"Ini rokoknya Bung Karno, loh...," kata sang politisi, sembari menyodorkan sebungkus rokok warna biru bermerek 555. Politis asal Yogya ini terasa tambah ramah dan baik. mungkin sedang berbunga-bunga hatinya karena kembali dipercaya sang ketum partai untuk menjadi sekjen untuk 5 tahun ke depan. 

Saya inisiatif mengambil rokok itu, tak lupa bilang terima kasih karena jarang-jarang ketemu rokok begini. Sebelum membuka dan membagikannya ke yang lain, saya taruh bungkus rokok di atas meja lalu saya jepret dengan kamera ponsel sebagai kenang-kenangan. Rasanya tak setiap hari bisa menemukan rokok begini. Ternyata kawan-kawan yang lain pun mengikuti. Saya tersenyum sendiri, ternyata bukan cuma saya yang ndeso.

Baca Juga : Telkomsel Perkuat Jaringan Di 5 Lokasi Wisata Super Prioritas

Saya duduk kembali menunggu makanan tersaji sambil ngobrol ngarol-ngidul. Kali ini, ditemani rokok bermerek State Ekspres 555. Sesekali kami membayangkan bagaimana Bung Karno dulu menghisap rokok ini dengan para pemimpin negara lain seperti Nikita Khurschev, Fidel Castro dan lain-lain. Kami tertawa. Di ujung laut sana matahari makin memerah. Suara ombak jatuh makin mengaduh. Suara alunan gamelan bali terdengar renyah. Ah, sedap sekali.

Bagaimana rasanya? Beberapa kawan yang mencicipi rokok itu hampir memberikan komentar yang sama. Rasanya seperti Marlboro putih. Namun lebih lembut. Saya biasanya selalu batuk saat menghisap Marlboro putih. Seperti ada jarum yang menusuk di tenggorokan. Tapi tidak saat menghisap rokok ini. Meski masih terasa tar di penghabisan.  Saya hanya mencicipi sebatang. Saya memang kurang suka rokok putih. Selain cepat habis, bagi saya rasanya terlalu ringan. 

Khusus rokok ini, saya punya beberapa alasan. Pertama, tak dijual di toko kelontong biasa. Harganya pun lumayan. Di situs jual beli online, sebungkus rokok “triple five” dibandrol Rp 60-85 ribu. Lumayan mahal dibanding rokok lokal yang dihargai Rp 15-25 ribu per bungkus. 

Baca Juga : Thailand Masters 2020, Bagas/Fikri Terhenti di Babak Kedua

Menutup tulisan ini, saya teringat cerita menarik soal Bung Karno dengan rokoknya. Suatu kali, Si Bung bertemu Fidel Castro di Havana, Kuba. Dalam obrolan santai, Castro menawari Bung cerutu kegemarannya. Si Bung juga sama, menawari Castro rokok favoritnya. Namun Castro kaget melihat rokok Bung Karno ternyata buatan Inggris. 

Mungkin heran, kenapa yang meneriakkan anti imperialisme ternyata merokok produk bangsa kolonial. Bung paham kekagetan sahabatnya itu. Dia lalu menjelaskan alasan memilih rokok itu.

"Kaum imperialis dan kapitalis itu harus dihisap (agar) jadi asap dan abu," kata Bung Karno. Keduanya lalu terbahak. Mungkin ada benarnya, kata orang sebatang rokok bisa menrekatkan persahabatan.

Baca Juga : Tingkatkan Penjualan, Dua Kelinci Kontrak Duta Real Madrid 4 Tahun

Bambang Trismawan, Wartawan Rakyat Merdeka