Sebut Saja Pendekar

Ngopi - Sebut Saja Pendekar
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ada cerita menarik di balik euphoria gaya hidup minum kopi lokal, yang begitu masif terjadi saat ini. Ternyata, momen itu menciptakan satu fenomena.

Ini dialami penjual atau nama kerennya pengusaha kopi, yang lebih memilih jadi down to earth, di kafe atau kedai (ini biar kesannya lebih in die aja, milenial banget kan), yaitu tentang kisah pendekar.

Sebut saja pendekar. Ya memang ke banyakan tukang kopi bilangnya begitu. Gimana nggak pendekar banget, kalau biji kopi belum diseduh aja doi udah tahu itu ada rasa nangkanya, nanas, duren, atau cokelat, bahkan tanah? Heran kan?

Sama halnya kayak tukang kopi di kedainya itu. Itu biji kopi masih di toples, digiling aja belum. Eh dia udah nyolong start, dan bilang kalau rasa yang lebih kompleks selain rasa kopi.

Gimana, nggak kayak lagi dihadapin sama petugas otoritas yang lagi sidak, ya kan? Kaget, iya. Padahal yang dijual kopi, bukan buah apa lagi rujak, bos. Nggak sampai di situ aja sih.

Baca Juga : Palsukan Paspor, Ronaldinho Ditangkap

Belum lagi yang namanya pendekar, lite rally pendekar (kata anak Jaksel) ka yak di film-film itu yang suka bawa senjata. Mereka juga dong, bawa senjata. Tapi yang ini nggak membahayakan kok. Dijamin.

Paling kalau senjatanya diunjukin ke tukang kopi, bikin minder, minimal respons komentar, ‘Wah canggih sih’. Senjata yang dibawa itu lebarnya dua kali lipat smartphone, tebalnya dua kali lipat juga, tapi kadang ada yang kecil.

Tapi harganya, hmmmm...kelas B aja itu seharga Rp 4 jutaan, yang mereka bawa. Senjata itu adalah timbangan, dengan sebuah merek impor. Ya, kalau ngebayangin mereka gendong-gendong timbangan ke mana-mana, ya gitu. Itu ada di tasnya.

Tapi nggak semua. Ini cuma bagian pendekar bersenjata. Yang nggak bersenjata sih, biasa aja ngadepinnya. Paling, ditanya rumus bikin kopi ala kedai kita. Pakai air, berapa derajat nya?

Terus skala banding berapa, kopi berapa gram? Duh, apalagi ka lau pendekar minta dibikinin biar kopi pilihannya keluar rasa itu tadi buah-buahan, rujak atau tanah, kacanglah.

Baca Juga : All England, Hendra/Ahsan Siap Pertahankan Gelar

Sebenarnya nggak salah, kalau dia bawa timbangan, punya dia, dia yang bawa juga nggak nyuruh barista kita. Sah sih. Terus kalau mereka request, atau sekadar nunjukin pengetahuannya soal flavor notes kopi juga, sah.

Tidak apa-apa, lho. Karena memang sifat tanaman kopi yang menyerap tumbuhan di sekitarnya itu bisa melekat di biji kopi, dan itu bakal makin terasa kalau ditangani dengan proses pasca panen, pilihan.

Banyak, dan kebanyakan terjadi. Kopi juga membawa rasa di sekitar tanaman. Kalau ada yang bilang ada rasa tanah, ya sebutnya earthy, kacangnuty, buah-buahannya klasifikasinya fruity.

Nah, kalau rasa yang dihasilkan dari pasca panen itu kalau prosesnya yang dipilih, misal ada yang namanya honey process, ending-nya kopi itu bakal ada manisnya kayak rasa madu. Beneran madu.

Semua rasa itu emang benar ada. Sekali lagi beneran ada. Tapi, dengan catatan gimana kita cara nyeduhnya. Minum kopi yang emang pengin ngerasain after taste atau flavor notes dari si biji kopi itu juga diseduh ada cara nya.

Baca Juga : Warga Tak Perlu Khawatir, Naik MRT Insya Allah Aman

Mengutip pertanyaan pendekar tentang rasio air dan kopi, benar adanya guys, itu ujung tombak, nangka apa duren apa tanah dan kacang yang pengin dikeluarin lebih kuat dari si kopi.

Kalau gramasi air-kopi, serta panas derajatnya, pas. Ya keluar rasa dan aroma itu, keniscayaan. Karena balik lagi, lidah juga butuh dibiasakan minum kopi yang beneran kopi.

Hitam, hasil dari gramasi kopi dan air, pas dan disajikan tanpa pemanis, dan sebagainya. Akan ada sensasi rasa lain di kopi.

Tapi, tapi nih kalau minum kopinya pakai susu, gula atau pemanis yang lain, ya ambyar kayak hatinya sad boy, sadgirl (penggemar lagu Didi Kempot), gaaaes. [MERRY APRIYANI]