Nasib Pengemudi Ojol

Ngopi - Nasib Pengemudi Ojol
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ucapan nyelekit bos Big Blue Taxi Malaysia, Datuk Shamsubahrin Ismail, soal Gojek dan Indonesia mengingatkan saya mengenai kondisi terbaru di Tanah Air. Saya tak bermaksud membantah atau mem benarkan pernyataan Sham subahrin itu. Di sini, saya ingin bercerita me ngenai nasib pengemudi ojek online (Ojol).

Di awal-awal ojol beroperasi, para pengemudinya sangat “berjaya”. Dalam beberapa cerita, mereka bisa mendapatkan penghasilan sampai di atas Rp 500 ribu per hari. Tapi kini, penghasilan mereka turun drastis.

Feriyansyah, teman baik saya dari SMP, merupakan salah seorang pe ngemudi GrabBike di Kota Tangerang, Banten. Dia menceritakan, saat pertama bergabung pada 2016, tarif per kilometer mencapai Rp 3.000. Tarif ini membuatnya gampang meng hasil kan pundi-pundi. Terlebih, saat itu penumpang begitu banyak.

Baca Juga : Schneider Electric Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Tapi sekarang, seiring dengan persaingan ketat antar operator, tarif diturunnya hingga menjadi Rp 1.600 per kilometer. Turunnya tarif ini membuat penghasilannya melorot. Sudah begitu, penumpang juga sulit didapat. “Kalau begini terus jangan kan buat bayar sekolah anak, mungkin bayar cicilan motor nggak kekejar,” keluhnya.

Fery mengaku, di 2016, dia bisa dapat penghasilan Rp 6 juta sebulan secara bersih. Sekarang sulitnya minta ampun. Apalagi pengemudi ojol semakin banyak.

Hal yang sama juga dirasakan teman saya lainnya, Rosikin, yang ber gabung menjadi pengemudi Gojek be berapa waktu lalu. Penghasilannya mengojek saat ini semakin berkurang dan melenceng dari harapannya semula.

Baca Juga : Wamendes Budi Arie Pastikan, 433 Desa Tanpa Listrik Bakal Segera Terang-Benderang

Karena itu, dia harus pintar-pintar membagi uang yang ia dapat untuk membeli bahan bakar, perawatan motor, dan kebutuhan keluarga. “Kadang kalau nggak diatur malah bikin pusing. Karena pemasukan semakin seret dan nggak jelas,” cetusnya.

Karena itu, Rosikin mendukung aksi teman-temannya yang belum lama ini menuntut tarif perkilometer dinaikkan menjadi Rp 4.000 ke Jakarta. Agar ada peningkatan pemasukan.

Secara pribadi, Rosikin setuju kalau tarif dinaikkan. Sebab, kalau tetap seperti sekarang, untuk perawatan motor, bensin, kuota juga enggak ke tutup. “Bensin saja sebulan sampai Rp 500.000.” ungkapnya.

Baca Juga : Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gorontalo, Fadel Cerita Usulan Amandemen UUD 1945

Berbeda dengan Fery dan Rosikin, tetangga saya, Reza, sudah tidak menjadikan ojek online sebagai pekerjaan utama. Sebab, dia kini sudah bekerja di pabrik biskuit di Kawasan Industri Jatake, Kota Tangerang. Reza mengojek hanya sebagai pekerjaan sambilan untuk meringankan biaya transportasi pulang pergi dari rumah ke pabrik biskuit. “Sekarang narik kalau sudah pulang kerja dan itu juga buat nambah-nambah beli bensin,” ceritanya.