Gagal Mencontek Mas Slamet

Catatan : DAUD FADILLAH

RMco.id  Rakyat Merdeka - Lampu HP saya kedap-kedip. Biru warnanya. Dari layarnya yang sudah retak-retak terlihat, ada WA dari Kang Ricky, Pemimpin Redaksi kami.  Dia menyampaikan saran dari big bos. Intinya, jangan menggurui saat menulis untuk rubrik ini. Musababnya, kami belum kategori pengamat, apalagi pakar. 

Sekira satu bulan setelah WA dari Pemred itu, di teras rumah, saat saya bingung mau menulis apa lagi, seorang tetangga datang menghampiri. “Mas Daud, karungnya sudah penuh itu, angkut saja,” ucap tetangga saya yang bekerja sebagai PNS ini. Mas Slamet namanya.

Berita Terkait : BJ Habibie, Bapak Teknologi dan Infrastruktur

Kedatangan Mas Slamet membuat saya jadi ingin menulis tentang kebaikannya. Dia melakoni sedekah rongsokan berupa sampah plastik seperti botol dan gelas air mineral, kantong kresek, serta kaleng minuman. 

Mas Slamet punya warung kecil yang dikelola istrinya, Mpok Lina. Semula, banyak orang yang jajan di warung itu, membuang sembarangan botol dan gelas plastik, serta kaleng minuman. Sering kali botol-botol itu ditendang-tendang bak bola oleh anak-anak hingga masuk got dan bikin mampet aliran air, terutama saat hujan. Bikin banjir. 

Berita Terkait : Hadiah Kejutan Dari Sang Badut

Mungkin, melihat itu, Mas Slamet dan Mpok Lina meminta orang-orang yang jajan di warungnya untuk memasukkan botol dan gelas plastik, serta kaleng bekas minuman ke dalam karung yang digantung di depan warungnya. 


Jika karung berisi rongsokan itu sudah penuh, mereka memberikannya kepada saya, untuk saya jual ke lapak rongsokan. Untuk dilebur menjadi bijih. Didaur ulang pabrik. Asyiknya, saya dapat duit dari rongsokan yang diberikan Mas Slamet dan Mpok Lina, meski sebetulnya saya bukan pemulung sejati. 
 Selanjutnya