Mati Kebanyakan Duit

Ngopi - Mati Kebanyakan Duit
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hemat silakan. Tapi pelit jangan. Itu kira-kira pesan dari Ustaz Dirja saat menjawab salah satu pertanyaan dari jemaahnya di masjid.

Dia mengingatkan bahwa sederhana itu dianjurkan tapi jangan berlebihan karena akan jatuh pada derajat pelit. Diterangkan juga dalam Alquran dan Sunnah tentang ancaman bagi orang pelit. "Saya melihat pelit itu ada dua. Pertama pelit sama orang lain dan yang kedua pelit sama diri sendiri," ujar sang Ustaz.

Nah dari dua jenis pelit tersebut yang dianggap parah ternyata ketika orang sudah pelit sama dirinya sendiri. Pelit dengan diri sendiri akan membuat orang di sekitarnya ikut menderita. Orang pelit ini biasanya akan bergantung pada orang lain untuk memenuhi sebagian kebutuhannya.

Berita Terkait : Sri Mulyani Percepat Penyaluran Dana Desa

Dengan demikian orang pelit akan merepotkan pihak lain. Bahkan bukan tidak mungkin orang pelit enggan menunaikan kewajibannya karena sangat berhasrat ingin menumpuk harta atau uang.

"Orang kalau pelit itu istri dan anaknya bisa ikut menderita. Jadi, pelit itu misalnya si A ada keperluan yang mana dia mampu memenuhinya, tapi tidak dilakukannya. Nah itu namanya pelit. Antum bisa lah membedakan diri antum itu pelit atau sederhana" jelasnya.

Teringat tausiahnya si Ustaz saya jadi introspeksi. Malam harinya saat berada di rumah orang tua, saya membuka obrolan dengan ayah. Di tengah obrolan teringatlah dengan sosok Om Ahong. Dia teman ayah saya waktu masih bekerja. Kebetulan sedikit dari kawan beliau ada yang saya kenal. Sejak kecil ayah suka mengajak saya bersilaturahmi misalnya di tempat bekerja, di acara gathering, kopdar dan acara lainnya. Oleh sebab itu saya sedikit mengetahui tentang Om Ahong.

Baca Juga : Kisah Di Balik Virus Corona Di Negeri Para Nabi

Sedikit kisah Om Ahong ini saya pikir masih ada kaitanya dengan tausiyah Ustaz yang baru saya dengar. Tak bermaksud ghibah, tapi sekadar mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Om Ahong dikenal sebagai pekerja keras yang berambisi. Namun untuk masalah uang dia sangat amat irit terhadap siapa pun termasuk dirinya sendiri. Bekerja bertahun-tahun nyaris seluruh uang gaji, uang tunjangan, dan pendapatan lainnya ditabung.

Ya ditabung bagus tapi kalau hampir semuanya ditabung bagaimana ya? Kasihan istri dan anaknya. Saking sayangnya dengan uang, dia enggan mengalokasikan biaya transportasi misalnya membeli kendaraan atau alokasi untuk ongkos naik angkutan. Parahnya selain tidak punya kendaraan dia juga tidak menyewa tempat tinggal. Tiap hari makan dan tidur memanfaatkan fasilitas di kantor. "Tidur tiap hari di kantor," kata ayah.

Sedangkan seluruh keluarganya berada di kampung. Suatu saat Om Ahong berencana membeli mobil. Dia mau mencoba menjalankan bisnis di jasa layanan transportasi. Singkat cerita dibelilah mobil secara cash. Dia pun turun langsung sebagai driver. Innalillaahi, hari pertama menjajal mobil maut tak bisa dihindari. Om Ahong mengalami kecelakaan. Dia tewas seketika.

Baca Juga : Rapat Lewat Telekonferens, Presiden Minta Tak Ada PHK Karyawan

Saya pun bisa mengambil hikmah dari Om Ahong. Mobil baru dan banyaknya uang yang diperjuangkan selama bertahun-tahun ternyata tidak dibawa mati. Hanya dicicip dalam sekejap. Saya teringat Ustadz yang mengatakan hemat boleh tapi pelit jangan.

Fajar El Pradianto, Wartawan Rakyat Merdeka