Bersatu, Jangan Cuma Omdo

Ngopi - Bersatu, Jangan Cuma Omdo
Catatan : MUHAMMAD RUSMADI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski tak ada data pasti dan resmi, hingga kini, Nahdlatul Ulama (NU) selalu disebut sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia. Saya yakin, pernyataan ini juga takkan ada  yang membantahnya.

Urusan angka-angka, bisa dilacak ke situs-situs tertentu terkait NU ini via Mbah Google. Ada klaim bahkan, 75% umat Islam Indonesia adalah warga NU. Tapi sekali lagi, itu semua masih kira-kira saja. Mungkin ada baiknya lembaga-lembaga survei membantu meng-update informasi ini.

Ini penting. Karena, setuju atau tidak, NU dianggap salah satu ormas yang mewakili corak Islam keindonesiaan. Yang ramah. Singkatnya, sekarang diistilahkan dengan Islam Nusantara itu. Meski bukan tanpa kontroversi.

Baca Juga : Senator Lampung Dengar Curhat Guru Honorer

Gampangnya memang, menjelaskan kenapa ada klaim besarnya warga NU ini tadi, karena didasarkan pada praktek ibadah khas NU. Yang sebenarnya juga sebutan lain dari umat Islam pengikut Imam Syafii (meski tentu ada juga yang tak sepakat). Misalnya ya seperti qunut Subuh, Maulidan, Tahlilan, Yasinan, ziarah ke makam-makam yang dianggap keramat dan beberapa hal lainnya.

Klaim ini kadang disebut juga dengan istilah warga “NU kultural”. Bukan yang punya kartu anggota. Uniknya, melihat peristiwa gonjang-ganjing politik akhir-akhir ini, “definisi” di atas bagi  sebagian, mungkin juga banyak orang, jadi terasa aneh. Sebutlah dari peristiwa Ahok dan aksi-aksi 212 misalnya, umat NU ini sepertinya kok terbelah. Bahkan yang pro 212 tak lagi dianggap warga NU.

Bagi warga NU yang punya kartu anggota, dukungannya tentu sesuai arahan Pengurus Besar (PB) NU pusat. Nah, bagaimana dengan warga NU kultural tadi? Yang boleh jadi tak punya katakanlah kartu anggota NU?

Baca Juga : Erick Berburu Sampai Eropa

Terus terang saja, bahkan praktek ibadah Habib Rizieq Shihab dan banyak para Habaib lainnya serta para jamaah mereka, bukankah juga sama dengan yang diamalkan warga NU umumnya? Tak heran akhirnya, sebelum ada friksi-friksi politik seperti belakangan, sebenarnya mereka pun juga bisa jadi diklaim sebagai warga NU (Nahdliyin).

Apalagi bila mau melihat perbedaan-perbedaan pandangan di kalangan penganut mazhab Syafi’iyyah di Indonesia sendiri. Sebutlah salah satunya Buya Yahya di Cirebon sana. Yang satu kampung dengan Ketua Umum PBNU, Prof Said Aqil Siradj itu. Atau Ustaz Abdul Somad. Atau KH Arifin Ilham. Sama. Tapi beda.

Lepas dari ini semua, NKRI ini adalah rumah besar yang harus dijaga bersama. Salah satunya, dengan kuatnya tali persatuan. Merajutnya, salah satunya dari ikatan persaudaraan ormas-ormas apapun. Yang berbeda. Terlebih lagi yang sealiran. Astaghfirullaaah! Kok jadi sok pinter gini, ya!? Ngupi yuuuk! Nguppiii!!