Jalan Pintas

Catatan : AULIA DARWIS

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di depan sekolahan saya dulu ada lapangan bola. Rumput hijau membentang rapi, indah dipandang.

Namun sayang, di tengah lapangan itu ada jalan setapak membelah horizontal. Setiap hari jalan itu dilalui agar lebih cepat sampai ke seberang. Orang malas jalan memutar, lebih suka jalan pintas.

Lama-lama muncul jalan setapak itu karena setiap hari diinjak. Fenomena jalan pintas ini kini terasa ada di mana-mana. Sebenarnya ini modal besar bangsa untuk lebih maju. Ingin cepat sampai ke tujuan.

Berita Terkait : KPPU Tolak Permintaan Grab

Semua orang ingin semua urusannya cepat. Termasuk saat di jalanan. Kalau perlu, jalan yang seharusnya tidak boleh dilewati tetap diterobos. Melawan arus pun berani.

Beruntung berangkat lebih cepat, karena di persimpangan sebelum masuk sekolah kendaraan sudah padat. Mobil dan motor saling berebut mendahului. Sebentar lagi akan kusut.

Benar saja. Begitu balik dari sekolah, persimpangan sudah kusut. Mobil yang berada di tengah persimpangan tak bisa bergerak, terhalang motor. Bunyi klakson bersahutan, bikin telinga pekak.

Baca Juga : Mahfud Cepat Berubah

Makanya, saya pantang membunyikan klakson. Rombongan motor di belakang saya, maju terus mengambil jalur kosong di sebelah kanan, melawan arus.

Akhirnya perempatan itu penuh. Yang depan tak bisa bergerak, di belakang nyodok terus. “Kasih jalan, kasih jalan,” teriak seorang bapak.

Dia turun dari motornya, berusaha membuka jalan. Kemarin pagi, saya mengantar anak sekolah lebih awal agar terhindar dari macet.

Baca Juga : Sukmawati Offside...

Itu kebiasaan setiap hari agar, tidak terburu-buru menjalankan motor. Tapi selalu mengikuti arus. Kalau di depan cepat, saya ikutan cepat. Namun tetap santai. Kadang si anak protes, kok nggak bisa ngebut sih kayak orang-orang.

Mobil yang tadi terjepit tengah, berhasil lolos. Dia mau belok kanan, namun kembali terhalang motor-motor dari arah berlawanan. Ibu muda pengendar mobil ini menurunkan kaca samping.

“Ini kan jalan saya, Pak,” semprot ke pemotor di depannya. Si pemotor hanya mesem saja sembari meminggirkan kendaraannya.***