Ikutan Demam Boba

Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setahun belakangan ini, jiwa tukang jajan saya mencatat, fenomena minuman boba atau bubble atau jelly, atau kerap diplesetkan sebagai cendol mahal, menyita perhatian beberapa masyarakat.

Khususnya mereka yang gemar kulineran, jajan di mall. Banyak orang yang ikut ambil bagian di gelombang tren minuman boba ini. Bukan hanya merek impor yang eksis di mall untuk menjual boba.

Sekarang mulai diramaikan juga dengan pejuang lokal. Beberapa merek lokal, berhasil mencuri perhatian dan eksis. Mereka yang mengenalkan produknya dengan godaan boba, akan dengan mudah menggaet kaum tukang jajan ini.

Kalau bicara soal harga dan rasa, relatif. Yang jelas dikembalikan ke pribadi si penyedia dan pembeli.

Tapi pada umumnya, minuman ini mulai dijual Rp 20 ribuan. Kalau bicara menunya, yang paling populer dan kerap dijadikan signature product si penjual adalah brown sugar boba milk.

Baca Juga : Ronaldo 700 Gol, Portugal Masih Tertahan

Susu dengan gula merah plus boba, jika disederhanakan. Terdengar sederhana, mungkin. Akan tetapi masing-masing kedai bisa mengunggulkan dengan banyak macam elemen rasa di minuman itu.

Misalnya dengan tambahan bahan tertentu, bisa menimbulkan rasa gurih, creamy, dan sebagainya. Nah bagian itu yang bikin beberapa merek jadi punya penggemar tersendiri di khusus menu ini.

Brown sugar sendiri, menurut saya turunan dari kepopuleran kopi brown sugar, alias gula merah yang beberapa tahun ini begitu hype, dan banyak digunakan sebagai pemanis minuman campuran kopi.

Kemudian bisa menarik kaum lebih luas, tidak hanya pecinta kopi, golongan nggak ngopi-ngopi klub itu jadi bisa menikmati mi nu man dengan gula merah.

Sungguh menarik kan? Fenomena yang bagi saya menarik sekali. Saya yang kali ini ada di tim tukang jajannya.

Baca Juga : Rachel Goddard Sempat Stres Hilangkan Bekas Jerawat

Serasa berpetualang mencoba minuman boba dari banyak kedai. Soal rasa pasti berbeda. Itu tadi, ada banyak elemen rasa, tambahan bahan di resep rahasia mereka.

Itu yang bikin kepincut. Interval atau jadwal dalam sebulan berapa kali buat jajan boba sih belum ada, dan belum terpikir untuk bikin catatan macam itu.

Berangkat dari rasa pengin dan haus adalah dua alasan saya beli minuman berboba. Awalnya sebagai penikmat. Menikmati dari satu minuman boba ke yang lainnya.

Tapi, lama kelamaan, saya suka minuman ini. Bahkan bisa punya niat buat pergi ke satu mall yang cuma karena di situ ada boba merek yang diidamkan.

Demam boba saya cuma sampai situ kok. Karena kalau sudah lihat antrean yang panjangnya pakai banget, banget, banget, sih nggak. Pilih mundur.

Baca Juga : Perteta Juluki Amran Bapak Mekanisasi Pertanian Indonesia

Meski tahu kalau bayar menggunakan aplikasi ada tambahan diskon gede. Karena sampai sekarang, ada satu merek impor punya, sejak awal kemunculannya sampai hampir setengah tahun ini antrean belinya panjang banget.

Super duper panjang. Bahkan, yang katanya sudah nekad ngantre itu bisa tiga jam untuk bisa menikmati boba.

Meski bisa diakali dengan membeli via jasa antar online, sepertinya belum tega untuk mencoba boba dan mengorbankan waktu tiga jam orang lain.

Alhasil saya belum coba merek itu. Jadi, nanti deh kalau orang-orang sudah mulai kecapekan dan nggak mau antre lagi di situ. Kan, jadinya sepi. Saya maju.

Tapi sekarang, tidak. Yah, level pecinta bobanya cuma segitu doang. Karena untuk berjuang antre aja, mikir ulang. Ah, ya sudahlah. [MERRY APRIYANI]

RM Video