Memaafkan Tanpa Melupakan

Catatan : WIDIA SAPUTRA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemilihan calon legislatif 2019 sudah di depan mata. Bicara pileg, jadi ingat sama cerita pengalaman kawan lama saya, MN. Dia salah satu politisi muda partai besar yang didirikan jenderal besar. Dua kali nyaleg pada tahun 2009 dan 2014 lewat dua partai besar berbeda tapi sama-sama bentukan mantan jenderal besar, dua kali pula MN gagal lolos ke Senayan. Pada pileg 2009, MN gagal. Gara-garanya dia dapat nomor urut besar. MN sudah minta nomor urut 1 sama seniornya di partai, tapi nggak dikasih.

Ini bukan pertama kalinya dia dikecewakan. MN juga pernah minta rekomendasi agar masuk di jajaran komisaris di salah satu perusahaan pelat merah di Sumatera. Tapi ditolak juga. Padahal loyalitas dan jasanya tidak perlu diragukan. Dia punya andil mengantarkan seniornya itu menjadi bos partai dalam usia relatif muda. “Sampai nemenin tidur di kandang hewan pun gue siap,” ucapnya membeberkan kesetiaannya.

Saat si bos muda partai berkuasa, MN hanya kebagian jabatan sekretaris, itupun di level divisi. Dia mencoba legowo. Tapi pria berkaca mata ini cemburu dengan rekan-rekan separtainya yang datang belakangan, namun dapat posisi bagus, dan bahkan ada yang lolos ke Senayan.

“Tapi, dalam politik jangan ada sakit hati, bos. Kalau masih sakit hati, ente mending mati aja,” ucapnya menenangkan diri. Saya pun mengangguk saja. Menurutnya, kedekatan dan kepentingan menjadi keniscayaan dalam membangun relasi politik.

Banyak ceritanya, orang-orang yang sudah jadi tokoh sulit sekali didekati. Bertemupun kadang mesti janjian dulu. MN bilang, kalau mau masuk lingkaran kekuasaan mesti tahu lewat gerbong mana. Kegagalan semua yang dicita-citakan membuat MN pasrah. Tapi di titik inilah saya mesti angkat jempol. MN tetap loyal dan hormat di saat si bos muda tumbang dari kekuasaannya gara-gara perkara rasuah, dan harus mendekam ke penjara.
 Selanjutnya 

RM Video