Alkohol Bukan Najis

Ngopi - Alkohol Bukan Najis
Catatan : UJANG SUNDA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertanyaan apakah alkohol najis atau bukan sudah lama ada di benak saya saat melihat pedagang minyak wangi yang suka mangkal di masjid-masjid. Di jajaran minyak wangi yang dijajakannya, pedagang tersebut memasang pamplet kecil bertuliskan “bebas alkohol”. Secara sepintas, tulisan itu mengartikan, minyak wangi yang mengandung alkohol tidak boleh dipakai untuk salat.

Pertanyaan saya muncul lagi saat ada seorang teman di Facebook membuka diskusi soal antiseptik untuk mencuci tangan yang mengandung alkohol. Dia bertanya, apakah setelah menggunakan antiseptik itu, kita wajib cuci tangan kembali dengan air bila mau salat. 

Baca Juga : Wabah Corona Sudah Renggut 43 Nyawa, Iran Larang Warganya Keluar Rumah

Saya rasa, pertanyaan yang sama juga muncul di kalangan kita. Utamanya umat Islam. Sebab, dalam Islam, alkohol dihukumi haram. Umat Islam dilarang mengkonsumsinya. Dari sana, muncul dugaan alkohol adalah najis. 

Namun, jika dilihat dari proses pembuatannya, saya kira alkohol bukan najis. Sebagai mantan mahasiswa Pendidikan Kimia, saya sedikit tahu mengenai ini. Dalam dunia kimia, alkohol yang berada pasaran dikenal dengan nama etanol. Rumusnya adalah C2H5OH. Kebanyakan alkohol berbahan dasar glukosa alias gula yang dipermentasikan. Bisa dari buah-buahan, bisa dari yang lain. Tidak ada unsur najis dalam proses pembuatannya.

Baca Juga : Tingkatkan Jumlah Penumpang, MRT Dorong Integrasi dengan Transjakarta

Lalu, kenapa dihukumi haram? Kalau kita tilik, ternyata, yang diharamkan itu adalah meminumnya. Alkohol diharamkan karena sifatnya yang memabukkan. Dalam Islam disebut khamr. Yaitu minuman yang mengandung alkohol. Jadi, hukum haramnya bukan berasal dari bendanya yang najis. Hukum haramnya alkohol ini berbeda dengan haramnya babi, darah, dan bangkai, yang semuanya merupakan najis.

Dari segi konsumsi, ternyata, dengan proses tertentu, alkohol juga dibolehkan. Dulu, waktu saya ngaji di musala di kampung, Pak Ustaz bilang, jika alkohol yang disimpan lama, lalu berubah menjadi cuka, boleh dimakan. Rumus kimia alkohol dengan cuka memang hampir mirip. Dari sana, berarti tidak ada unsur najis. Kalau ada unsur najis, sampai kapan pun tidak boleh dimakan. Kecuali dalam kondisi darurat.

Baca Juga : Sinergi Perusahaan Anak BNI Dukung BNI Java Jazz Festival 2020

Selama ini, alkohol juga banyak digunakan di dunia kedokteran. Untuk menstrerilkan benda-benda medis, hampir semua memakai alkohol. Mau dioperasi, diolesi dulu alkohol. Mau disuntik, diolesi dulu alkohol. Kalau betul alkohol itu najis, tentu akan sangat menyusahkan umat Muslim yang sedang berobat. Dia harus mencuci bekas operasiannya dulu jika mau salat.