Pawang Hujan Di Proyek Tol

Catatan : ESTI FITRIA WULANDARI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Duh, sudah masuk bulan ber-beran masih aja terik nih mataharinya. Padahal tahun lalu musim hujannya panjang banget. Sudah waktunya kemarau, eh malah masih hujan. Mungkin karena itu tahun ini musim hujan jadi telat, keluh saya membuka obrolan dengan abang ojol. Memang, waktu itu sudah lewat pertengahan September, di mana nama bulan berakhiran ber identik dengan datangnya musim hujan.

Jadi ingat, waktu saya mengajukan proposal menikah di Desember, sesuai bulan kelahiran saya, ortu dengan tegas menolak. Nanti nggak ada yang datang, gitu kata ayah saya. Tapi sekarang, dengan adanya pemanasan global dan faktor lainnya, musim hujan dan musim panas datang dan pergi sesukanya. Mirip lirik di lagu jadulnya Diana Nasution, Benci Tapi Rindu, hehe..

Kembali ke keluhan saya tadi. Si abang ojol dengan pedenya bilang, daerah sekitaran tempat tinggal saya bakalan yang paling belakangan datang hujan. Karena baru-baru ini, dia mendapat order ngojek dari seorang pawang hujan asal Banten. Si pawang hujan itu mengaku ditugaskan untuk menjaga proyek pembangunan tol agar tetap kering. Di situ dia tidak sendirian. Karena ada tiga pawang lainnya, yang juga punya tugas yang sama.

Setelah saya melongok ke arah proyek tol, baru saya ngeh mengapa keempat pawang hujan itu bahu-membahu mengusir hujan ke wilayah lain. Ternyata, proyek yang digeber siang malam itu sedang dalam tahap pengecoran, yang membutuhkan panas matahari agar cepat kering.

Dan entah apa pula mantra yang dirapalkan si pawang. Saat itu hujan memang sungkan membasahi wilayah sekitaran proyek tol. Termasuk komplek perumahan saya, yang buntutnya memaksa satu dua tetangga merogoh koceknya untuk memperdalam sumur. Tapi, soal tidak turunnya hujan, saya yakin itu hanya kebetulan.

Cerita pawang hujan ini juga saya dapat belum lama ini, saat mengunjungi Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebagai salah satu wilayah yang curah hujannya cukup tinggi, kala itu di sudut Kabupaten Malang, panasnya matahari sungguh menyengat.

Istri Kepala Desa lalu berbisik kepada saya, bersyukur hari itu cerah. Dan lagi-lagi karena ada campur tangan pawang hujan. “Saya sudah menyuruh dua pawang supaya jangan hujan hari ini,” kata si Ibu Kades.

Namun belum kering liurnya membasahi bibir, awan hitam menggelayuti langit. Hujan rintik mulai turun. Lama-lama menjadi deras. Bukti nyata tidak ada yang bisa menandingi jika Sang Pencipta sudah berkehendak.

RM Video