Alam Sekarat

Ngopi - Alam Sekarat
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Alam tengah sekarat. Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan keadaan bumi saat ini. Berita tentang polusi selalu menjadi headline para aktivis lingkungan. Bukan cuma Jakarta, Kalimantan, Surabaya, dan kota-kota besar lain di Indonesia jadi korban. Negara besar seperti China, Amerika Serikat, bahkan India turut dilanda isu lingkungan.

Sekitar tiga bulan lalu, kebakaran besar melanda hutan penyedia oksigen terbesar di dunia yaitu Amazon di Amerika Serikat. Ribuan hektar lahan sawit terbakar juga di Kalimantan hingga kini. Di New Delhi, India, polusi udara kadarnya sudah makin membahayakan bagi manusia. Belum lagi 1 triliun sampah plastik dihasilkan dari masyarakat dunia.

Berita Terkait : Menkeu Rayu DPR Setujui Cukai Minuman Ringan

Tak bisa pungkiri lagi, istilah perubahan iklim (climate change) kini sedang terjadi di dunia. Cuaca ekstrem sudah terjadi di belahan bumi manapun. Di Jakarta, gelombang panas yang mencapai 38 derajat celcius hampir dua minggu ini. Padahal sebelumnya BMKG bilang, gelombang panas ini hanya terjadi seminggu, namun kenyataan itu belum usai.

Di sisi belahan dunia jauh dari Jakarta, The Climate Reality Project Indonesia, bagian dari The Climate Reality Project AS melansir, musim dingin yang saat ini terjadi di Amerika bagian barat tengah dan timur laut, suhunya men capai 40 derajat celcius.

Baca Juga : Jaksa Agung Kebanyakan Omdo

Sementara di Australia, gelombang panas mencapai suhu 50 derajat celcius. Menyerang Australia bagian tengah dan selatan. Hingga menyebabkan banyak hewan mati dan memakan korban jiwa puluhan orang.

Pernahkah kita berpikir, bagaimana jika tiba-tiba bumi ini sudah lelah, dan memuntahkan semuanya kepada kita yang hidup di atasnya? Membayangkannya saja sudah tak sanggup.

Baca Juga : Pramono Bilang Maunya Jokowi

Kita, ya kita, bisa kok berkontribusi merawat bumi ini supaya tidak sekarat. Tak perlu menunggu orang lain. Mulai aja dari diri kita sendiri. Tidak perlu repot-repot mencari hal besar, kita bisa memulainya dengan hal yang paling kecil dan sederhana. Misalnya, bawa tumbler dari rumah, kurangi minum pakai botol plastik, supaya kita tak berkontribusi sampah. Karena sampah yang mening kat juga jadi isyarat bumi nggak sehat.

Menanam dan memelihara pohon di lingkungan sekitar juga jadi kontribusi baik bagi bumi. Kementerian Kesehatan RI juga memberikan opsi dengan mengonsumsi pangan lokal. Mengubah pola makan dengan lebih banyak konsumsi sayur dibanding daging, juga bisa mengurangi pencemaran lingkungan. Yang terpenting buat kita lebih hemat dan sehat loh. [DWI ILHAMI]