Ingat Dagang Kaki 5

Catatan : ERWIN TAMSAL

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Pa, tolong bantu jualin ini dong,” mohon Muhammad Reza, putra sulung saya, awal November tahun lalu. Di rumah, Reza menunjukkan jas hujan. Saya tersenyum. Mesem-mesem. Bukan Mengejek. Meremehkan. Bukan pula menolak. Senyum, ingat kisah mirip saya lakoni saat kuliah dulu.

Hampir 3 tahun berdagang kaki lima di depan PD Pasar Jaya, Blok M, Jakarta Selatan. Yang pertama saya jual, ya, jas hujan. “Kok bisa sama seperti yang dijual anak saya,” batinku sambil nyengir sendiri. Jual jas hujan cuma bertahan dua minggu. Kurang laku. Stok dikit. Modelnya jadul. Ya, itu itu saja.

Berita Terkait : Kabul Dan Mang Siman

Sekarang, model, merk, motif beragam. Sudah dimodifikasi. Tebal. Kuat. Tahan lama. Bisa bertahun-tahun. Stok banyak. Tinggal pilih. Gagal jas hujan, ganti jual baju kaos. Kemeja. Gesper atau ikat pinggang. Bando. Sisir. Jepitan rambut. Gunting kuku. Celana jeans. Daster. Termasuk (maaf) ngobral dalaman perempuan. Tergantung peminatnya. Ya, ngikutin trend.


Saya buka lapak dagang kaki lima jam 2 siang. Setelah pulang kuliah. Tutup jam 9 malam. Nyampe kontrakan, jam 12 malam. Rutin. Seperti itu. Bosan juga sih. Tapi, dienak-enakin aja. Lagi nggak ada pembeli, bisa cuci mata. Liat artis shopping. Godain yang bening-bening.

Berita Terkait : Nunggu Orderan Kampanye

Cik Agus, teman kecil dari kampung, pertama kali mengenalkan dunia kaki lima. Kalau nginep di kontrakan saya, Ciputat, dia sering bujuk saya. Hati luluh juga. Kepincut rayuan dagang kaki lima.

Awalnya jiper. Lama-lama ‘nikmat’ juga mengais rezaki di emperan. Lumayan. Dapat untung. Meringankan ortu. Bisa nyicil kontrakan. Ditabung. Bisa makan di warteg. Beli rokok batangan. Yang penting halal. Action berjuang cari sesuap nasi ini seru. Basah keringat. Muka berminyak. Bau badan nggak karuan. Acem. Sangit. Kecut. Gado-gado. Campur aduk.
 Selanjutnya 

RM Video