Anak Kedua

Ngopi - Anak Kedua
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seminggu ini kepala saya terasa berat. Maklum, istri baru saja lahiran anak kedua. Perempuan lagi. Seperti orang-orang, ini berarti begadang setiap malam.

Mungkin, ‘penyakit’ saya ini lantaran kurang tidur. Karena sebentar-bentar si bayi bangun. Harus ikutan bangun, untuk membantu istri. Efeknya sungguh luar biasa. Rasa kantuk bikin tidak fokus kerja.

Belum lagi ditambah pikiran lain. Biaya. Tambah anak, tambah pula uangnya. Komponen biaya anak ini berlipat ganda dari sebelumnya. Kira-kira ekstra 100 persen dari sebelumnya. Sedangkan gaji naik mengikuti inflasi. Paling banyak delapan persen setahun.

Berita Terkait : Cerita Tentang Si Kakak

Tapi, percaya saja. Kata orang tambah anak, tambah rejeki. Urusan rezeki ini kadar keimanan saya sungguh tinggi. Naik 100 persen dari sebelumnya. hehe.

Namun, setelah dipikir-pikir. Beban saya tidak seberat anak pertama. Si kakak belakangan sering uring-uringan. Sungguh luar biasa. Ada saja yang dibikinnya. Hal kecil, jadi besar. Semua dengan tangisan.

Selama tiga tahun belakangan, si Kakak selalu jadi pusat perhatian. Matahari di keluarga. Semua tercurah untuknya. Kehadiran adiknya, bisa jadi mengganggu zona amannya. Karena itulah aksinya sungguh luar biasa belakangan.

Baca Juga : ASPPHAMI Manfaatkan Teknologi Digital Di Bisnis Pengendalian Hama

Karena itulah, pusing saya tidak ada apa-apanya dibanding si Kakak. Mudah-mudahan, dia bisa melewatinya tanpa merasa tersisihkan. Tetap tumbuh sesuai namanya.

Tafka yang berarti tangguh. Apalagi menurut pandangan kami, kasih sayang dan perhatian buat Tafka tetap sama. Tidak berkurang sedikit pun. Tapi kan itu logika orang dewasa. Anak tiga tahun mana tahu.

Salut saya buat Almarhum Bapak dan Ibu. Yang membesarkan 6 putri dan 1 putra, yakni saya. Soal kasih sayang, kakak-kakak, saya dan adik berkecukupan. Alhamdulillah semua sehat jasmani dan rohani sampai sekarang. Tidak ada yang aneh-aneh.

Baca Juga : Sumbawa Barat Gempa, Tidak Berpotensi Tsunami

Mungkin yah, kakak tertua saya mengalami kondisi seperti anak pertama saya ini. Begitu juga, kakak kedua, ketiga, keempat, kelima. Bahkan saya juga mengalami kondisi seperti ini saat adik saya lahir. Kemudian, banyak anak, banyak rezeki mungkin ada benarnya juga.

Dengan gaji kepala sekolah SD Negeri, 6 diantara kami sekolah sampai universitas. Satu memilih sekolah SMK dan tidak melanjutkan kuliah. Semoga saja. Walaupun zaman sekarang berubah. Apa yang dialami kedua orang tua saya menular ke saya. Setiap anak ada rezekinya. Walaupun dengan jalan yang berbeda. Aamiin. [MARULA SARDI]