Turnamen Voli Jadi Ajang Cari Jodoh

Ngopi - Turnamen Voli Jadi Ajang Cari Jodoh
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setiap tahun di kampung tempat saya tinggal, rutin diadakan turnamen terbuka bola voli. Klub dari berbagai daerah boleh mendaftar. Bahkan, kalau ada yang mau, klub bertaraf internasional pun dipersilakan ikut. Masing-masing klub yang hendak mendaftar dikenakan biaya Rp 300.000.

Sistem pertandingannya, knock out alias langsung gugur dalam memperebutkan titel juara. Total hadiah yang disediakan sebesar Rp 6 juta.

Setelah masa pendaftaran dibuka sejak Oktober, ada 12 klub yang ikut partisipasi. Terdiri dari 6 klub wanita dan 6 klub pria yang akan memperebutkan hadiah untuk juara I Rp 3 juta, juara III Rp 2 juta, dan juara III Rp 1 juta.

Berita Terkait : Jalan-jalan ke Water Park

Tidak ada juara umum, karena dananya terbatas. Sebab, kompetisi ini sponsor utamanya adalah warga setempat.

“Kenapa tidak menyebar proposal ke pabrik sekitar, kalau mereka mau jadi sponsor kita siapkan lapak untuk mereka di samping lapangan sebagai ajang promosi?” tanya saya kepada panitia.

Seorang panitia menjelaskan, mereka sudah sering menyebar proposal, tapi tidak ada pengusaha pabrik yang berminat. Pengusaha yang antusias mengisi lapak di sisi lapangan hanya tukang bakso, cilok, dan es cendol. Sementara warga sekitar membuka warung kopi dan gorengan dadakan.

Berita Terkait : Hadiah Kejutan Dari Sang Badut

Tanggal 30 November sampai 1 Desember 2019, kompetisi mulai di gelar. Pertandingan dimulai dari jam 8 pagi sampai selesai. Lapangan tanah merah disulap jadi kuning dengan serbuk gergaji. Biar tidak becek. Karena habis diguyur hujan semalaman.

Jadwal pertandingan pun dimulai, hampir semua warga ikut menyaksikan. Mereka berkumpul di sisi lapangan menggunakan pakaian terbaiknya. Terutama yang masih single, turnamen ini dijadikan ajang cari jodoh.

Seorang panitia meneriakkan bah wa pertandingan segera dimulai melalui sound system milik warga yang kebetulan punya bisnis organ tunggal. “Wis wayahe wayahe, ayo yang jomblo kumpul siapa tau nemu jodoh,” teriak Hendra, salah satu panitia.

Berita Terkait : Dosenku Sayang, Dosenku Malang

Saya, yang baru kali ini menyaksikan pertandingan, sempat bertanya kepada Hendra, apa setiap turnamen selalu ada yang menemukan jodoh. Dia lantas menjawab, salah satu pasangan yang baru menikah September silam, awalnya saling mengenal di turnamen ini.

“Berarti di sini memang tempat cari jodoh ya?” kata saya. “Iya, kalau yang sudah nikah mau nambah pos lagi juga bisa cari di tempat ini,” kata Hendra sambil tertawa. [BHAYU AJI PRIHARTANTO]