Hobi Bawa Berkah

Ngopi - Hobi Bawa Berkah
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejak duduk di bangku SMA sekitar awal tahun 2000-an, saya sudah hobi mengutak-atik sepeda motor. Walau saat itu saya belum punya motor, tapi sering nongkrong bareng kawan yang punya motor dan hobi utak-atik tunggangannya.

Lambat tapi pasti, setelah punya motor, saya makin keranjingan bongkar-bongkar. Baik hanya sekadar bersih-bersih mesin, sampai perbaikan besar seperti turun mesin pernah dilakoni sendirian.

Walau sekarang sudah jarang ngoprek motor, tapi ilmu belah mesin masih melekat di kepala. Tapi dengan catatan, saya cuma paham bongkar mesin motor 2 tak dan 4 tak bersistem karburator. Maklum, di zaman saya, belum familiar teknologi injeksi.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Di Tahun Baru kemarin, ilmu saya terpakai lagi. Ceritanya, saya yang saat itu memang tidak ngantor, berangkat dari rumah di Bekasi menuju rumah orang tua di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Saat itu beberapa wilayah di Jabodetabek terendam banjir. Tidak terkecuali di jalan yang saya lalui saat menuju rumah orang tua.

Melihat banjir yang tidak terlalu tinggi, hanya sebetis orang dewasa, saya yang sehari-hari menunggangi Yamaha Vega R, nekat menerabas. Terlihat cetek di awal, ternyata di pertengahan jalan genangan air semakin dalam. Akhirnya, air masuk ke mesin, dan motor mati seketika.

Untung punya ilmu ngoprek, kata saya dalam hati. Dengan tenang saya dorong motor melewati banjir. Sampai di ujung jalan, saya buka busi dengan toolkit standar yang ada di sepeda motor untuk membuang sisa air yang masuk ke mesin. Kemudian saya buang sisa bensin yang terdapat di mangkuk karburator dan selah motor beberapa kali sampai air benar-benar keluar dari mesin dan karburator.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Saya sengaja belum menyalakan mesin, karena kalau masih ada air di dalam ruang bakar bisa berakibat fatal bagi mesin. Bisa terjadi water hamer yang bakal bikin mesin rontok, alias turun mesin. Kalau sudah begini, dompet bisa kosong karena biaya perbaikan yang besar.

Setelah yakin air benar-benar keluar dari mesin, baru busi kembali dipasang dan lubang pembuangan di karburator ditutup. Diselah beberapa kali, putar kunci kontak ke posisi ON, Alhamdulillah, motor kembali hidup dan saya langsung lanjutkan perjalanan.

Di sepanjang perjalanan, saya lihat banyak pengendara motor yang senasib. Bedanya, mereka kesulitan menyelah motor yang tak kunjung hidup. Sementara saya, tidak sampai 15 menit, sudah kembali melanjutkan perjalanan. Dalam hati saya berkata, ini berkah hobi oprek motor.

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

Novalliandy, Wartawan Rakyat Merdeka