Naik Gunung Lagi

Ngopi - Naik Gunung Lagi
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari lalu, saya dikirimi video saat mendaki Gunung Lawu oleh Subekti, sahabat lama. Sambil senyum sendiri, terlintas keinginan mendaki gunung lagi. Begitu juga kawan saya itu.

Akhir Desember kemarin, kami berdua memang melakukan pendakian sampai ke puncak Lawu, gunung yang dianggap angker oleh pendaki. Tapi, gunung memiliki keindahan dan pesona yang luar biasa indah.

Awalnya, kami ragu bisa mencapai puncak Lawu, lantaran sejak 10 tahun terakhir tidak pernah lagi hiking. Karena terbentur pekerjaan dan keluarga. Akhirnya, dengan persiapan fisik dan perlengkapan peralatan yang kami lakukan selama sebulan, akhirnya Jumat, 13 Desember, berangkat ke Karang Anyar, Jawa Tengah.

Kenapa memilih Lawu, tidak ke gunung lain saja yang lebih dekat? Alasannya, kami ingin menikmati padang rumput savana Gunung Lawu yang terkenal indah, dan menjajal gunung yang termasuk tujuh gunung tertinggi di Pulau Jawa. Soal angker, juga menjadi alasan kami ke gunung yang terletak di antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut.

Berita Terkait : Ngomongin Rudal

Sabtu, 14 Desember, kami memulai pendakian melalui Candi Cetho. Jalur ini merupakan yang terpanjang, paling jauh, paling terjal, dan paling indah di antara empat jalur lainnya yaitu Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Jogorogo, dan Singolangu. Selain itu, Candi Cetho juga merupakan jalur paling mistis di kalangan para pendaki.

Kami memulai pendakian jam 8 pagi, supaya bisa mendirikan tenda di pos 5 Bulak Peperangan, dan bisa melakukan summit attack pada dinihari. Perjalanan dari pos registrasi sampai pos 1 lumayan melelahkan, meski jalur yang kami lewati belum terlalu terjal.

Selanjutnya, jalur menuju pos 2 bisa dibilang lumayan menanjak. Sedangkan pos 2 menuju pos 3 sudah mulai terjal, sama sekali tidak ada jalan landai. Di pos 3 inilah para pendaki mengisi persediaan air, karena tersedia sumber air.  

Pos 3 menuju pos 4 dan pos 5 dianggap jalur yang sangat menyiksa menguras tenaga. Lantaran treknya yang terjal dengan kemiringan sekitar 70-80 derajat dan tidak ada jalur datar. Saking lelahnya, di perjalanan menuju pos 4, saya sempat tertidur di bawa pohon.

Berita Terkait : Butuh Setahun Untuk Akrab dengan Keluarga

Menempuh sekitar 10 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pos 5 dan mendirikan tenda dengan diiringi hujan deras dan suara gemuruh petir. 

Pos 5 Bulak Peperangan dan di Pos Gupakan Menjangan merupakan tempat favorit para pendaki untuk mendirikan tenda. Sebabnya, di sini pendaki bisa menikmati luasnya padang rumput hijau seluas mata memandang. Setelah melewati Pos Gupakan Menjangan, kita akan melewati pos yang dianggap angker yaitu Pasar Setan atau Pasar Dieng yang dianggap sebagai pasar alam gaib di Gunung Lawu.

Sepanjang perjalanan dari pos 1 sampai tempat membuka tenda di pos 5, sempat terlintas dalam benak kami bakal menemukan hal-hal mistis. Tapi, hal itu tidak terjadi, karena di hari itu ada sekitar 100 orang yang mendaki.

Besoknya, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, setelah 2,5 jam akhirnya kami sampai juga ke puncak Gunung Lawu. Tak lupa, menyempatkan untuk mampir dan menyeruput teh manis di Warung Mbok Yem, warung legendaris di puncak gunung. Total, kami membutuhkan waktu 12,5 jam untuk bisa sampai ke puncak.

Berita Terkait : Jalan-jalan ke Water Park

Didi Rustandi, Wartawan Rakyat Merdeka