Bahasa Tunjukkan Harga

Ngopi - Bahasa Tunjukkan Harga
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ada yang menarik saat saya berbincang-bincang dengan beberapa rekan sesama wartawan yang tengah meliput di Kompleks Kejaksaan Agung, pekan kemarin. Awalnya, percakapan kami mengenai tulisan dan kata atau kalimat yang lebih pas saat menulis. Seorang rekan nyeletuk, bahwa bahasa menunjukkan jati diri bangsa. Artinya, bahasa menunjukkan karakter dan identitas bangsanya.

Tiba-tiba, seorang wartawan yang lebih senior nyeletuk. “Bahasa menentukan harga,” ucapnya. Kami sempat kaget. Namun, sebelum disela, dia sudah menjelaskan maksudnya.

“Dari bahasa yang dituliskan dalam berita akan terasa harga yang diperoleh dari berita itu. Nilainya kecil atau gede, tergantung bahasa yang disusun,” jelasnya.

Berita Terkait : Terserang Panas di Pondok Pesantren

Semakin menohok bahasa seseorang yang dituliskan pada berita, tambah dia, semakin tinggi harganya. Semakin lembek bahasa dalam berita, akan dapat ditakar seberapa harga berita itu. “Jadi, bahasa menunjukkan harga. Itu yang lebih tepat buat kita,” ujarnya, sambi terkekeh.

Dia juga mencontohkan sejumlah kasus yang sehari-hari dihadapi para wartawan di lapangan. Seperti, jika bahasa yang termuat dalam berita yang dituliskannya sangat menyanjung-nyanjung seseorang, maka akan muncul pemahaman bahwa si penulis itu sedang menjual bahasa.

“Sebab, orang yang disanjung-sanjung itu, biasanya ditempatkan pada posisi lebih atas dibandingkan wartawan yang menuliskan berita. Jadi, orang yang disanjungnya itu lebih berharga daripada si wartawan yang menulis berita itu,” tutur pria berkumis tipis itu.

Berita Terkait : Tanpa Kuota, Mati Gaya

Jadi, kata dia, bahasa tidak saja menunjukkan bangsa. Tetapi juga menunjukkan harga atau nilai yang terkandung di dalam berita. Sebuah berita bernilai atau tidak, tergantung dari bahasa yang digunakan.

Peribahasa bahwa bahasa menunjukkan bangsa itu memang benar adanya. Tapi, bahasa menunjukkan harga juga bisa tidak salah. Karena memang kenyataan begitu. 

Jhon Roy Pangibulan Siregar, Wartawan Harian Rakyat Merdeka