Memperbaiki Surat-surat

Ngopi - Memperbaiki Surat-surat
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jum’at siang saya bersih-bersih rumah seperti biasa. Tapi kali ini saya tidak bersih-bersih di atas, tapi ruangan di bawah. Selesai nyapu semua bagian rumah, saya pun mulai ngepel dari ruang tamu. Niatnya sih saya ngepel dari depan dan selesai di kamar belakang.

Setelah ngepel ruang tamu, saya langsung ke kamar ibu saya, dan bermaksud ngepel di situ. Ketika sampai ke kabinet baju, ternyata ada genangan air di situ. Saya pun langsung khawatir isi di dalam kabinet itu basah. Kalau isinya hanya baju sih nggak masalah, tinggal lempar ke mesin cuci atau bawa ke laundry. Masalahnya sebagian kabinet itu berisi berbagai macam dokumen, seperti akte kelahiran, Kartu Keluarga, ijazah dan lain sebagainya.

Kekhawatiran saya pun terbukti, banyak dokumen yang ada di situ basah. Sudah agak kering sih, tapi masih agak lepek. Entah basahnya itu karena bocor sejak kapan.

Berita Terkait : Spekulasi Liar Obat Virus Corona

Karena seingat saya, kamar yang ditempati ibu saya itu nggak pernah ada yang bocor. Makanya banyak dokumen penting yang ditaruh di situ. Apalagi tahun lalu bagian depan baru direnovasi, lantai dua diperluas sampai ke depan. Jadi atap kamar yang ada di depan itu harusnya nggak ada masalah.

Melihat dokumen-dokumen yang basah, saya pun berhenti ngepel sementara. Semua dokumen segera saya keluarkan, dan saya bawa ke ruang tamu. Satu par satu dokumen, saya jemur di meja dan kursi di ruang tamu, biar cepet kering. Untungnya dari yang saya lihat, nggak ada dokumen yang rusak parah.

Selain basah, ada beberapa dokumen yang robek, tapi hanya di bagian pinggir. Begitu juga dengan dokumen yang bolong, bolongnya hanya dipinggiran. Harusnya sih nggak akan mempengaruhi keabsahan semua dokumen tersebut. Oleh karena itu, setelah selesai menjemur semua dokumen, saya pun meneruskan kegiatan ngepelnya.

Berita Terkait : Bahasa Tunjukkan Harga

Malam harinya saya pun bilang ke orang tua, bahwa saya berniat memberbaiki dokumen tersebut. Saya berencana membawa dokumennya ke Arsip Nasional RI (ANRI). Karena seingat saya, ANRI sedang membuka pelayanan restorasi dokumen, dalam rangka pelayanan terhadap para korban banjir. Seperti diketahui, tahun 2020 dibuka dengan bencana banjir yang melanda Jabodetabek.

Banjir kali ini berhasil merendam rumah sebagian warga ibu kota. Akibatnya, banyak perabot rumah tangga yang rusak terendam banjir. Tak hanya itu, berbagai dokumen penting pun rusak karena ikut terendam. Tanpa buang waktu, saya pun langsung mengurus surat pengantar ke RW setempat.

Karena saya sendiri nggak tahu bagaimana prosedur untuk memperbaiki dokumen. Yang saya tahu, setiap pengurusan dokumen hampir selalu membutuhkan pengantar dari RT atau RW setempat. Jadilah saya ke rumah Pak RW malam itu untuk minta surat pengantar.

Berita Terkait : Terserang Panas di Pondok Pesantren

Ketika ditanya, apa penyebab dokumen rusak yang harus ditulis di suratnya? Saya bilang saja, 'tulis saja rusak karena banjir Pak'. Sebab saya khawatir nggak bisa merestorasi dokumen di ANRI, atau akan lebih repot kalau bukan korban banjir. Pak Djiman, Ketua RW saya pun setuju dan menuliskan alasan tersebut. Minggu depan rencananya ibu saya yang akan mengurus dokumennya ke ANRI.

Nanda Prananda, Wartawan Rakyat Merdeka