Beda Mesin USG, Beda Usia Kandungan

Ngopi - Beda Mesin USG, Beda Usia Kandungan
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Selasa, 7 Januari lalu, anak kedua saya yang berjenis kelamin laki-laki, lahir ke dunia. Melalui operasi caesar di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat. Kondisinya sehat. Dengan berat badan 3,4 kg, dan panjang 50 cm. Tapi, kelahiran anak kedua saya ini sedikit lebih menantang dari yang pertama. 

Awalnya, sebelum melahirkan, istri saya selalu memeriksakan kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Di rumah sakit itu juga anak pertama saya dilahirkan. Namun, di kehamilan kali ini, kami juga memeriksakannya ke Puskesmas. Memanfaatkan fasilitas BPJS. Perkiraan saya, dari Puskesmas itu nantinya dirujuk ke rumah sakit tempat biasa kami periksa. Karena riwayat istri saya yang sejak anak pertama harus melahirkan lewat operasi caesar. Selain itu, Puskesmas itu posisinya paling dekat dengan rumah sakit.

Tapi, perkiraan saya salah. Dari lima pilihan rumah sakit rujukan, tak ada rumah sakit tempat biasa istri saya periksa. Akhirnya, kami milih salah satu dari lima rumah sakit itu. Pertimbangan pertama, letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Pertimbangan lainnya, kakak dan istri sepupu saya pernah melahirkan di rumah sakit itu. Semuanya lancar. Mereka pakai BPJS juga.

Berita Terkait : Jenazah Diurus Oleh Para Guru

Sekitar minggu ketiga Desember 2019, untuk pertama kali istri saya diperiksa di rumah sakit rujukan itu. Tapi, entah kenapa, istri saya merasa tidak nyaman. Baik dari dokternya maupun waktu pemeriksaannya. Karena bekerja hingga sore, terpaksa istri saya harus mendapat giliran hingga menjelang tengah malam.

Ketidaknyamanan lain  adalah karena perbedaan usia kandungan. Istri saya mengingat betul. Karena, selalu mencatat kapan waktu dia datang bulan. Sehingga, tahu persis usia kandungannya. Di rumah sakit pertama, usia kandungan menurut perhitungan manual istri dan mesin USG, sama. Tapi, dari mesin USG di rumah sakit kedua, berbeda. Kandungan istri saya lebih tua dua minggu. Menurut hitungan istri, usia kandungannya baru 35 minggu. Tapi, menurut mesin USG rumah sakit itu, sudah 37 minggu. “Jadi sudah bisa nih dijadwalin operasi,” kata dokternya, kala itu.

Istri saya nggak terima. Dia yakin hitungannya lebih tepat. Makanya, dia sengaja melewatkan dua minggu hingga akhirnya periksa lagi pada minggu pertama Januari 2020. Di pemeriksaan itu, akhirnya disepakati, operasi 7 Januari 2020.  Karena usia kandungan hampir 40 minggu. Begitu menurut mesin USG rumah sakit itu.

Berita Terkait : Demam Tenis Meja

Entah bawaan ibu hamil atau bagaimana, istri saya bimbang. Dia nggak mau melahirkan di rumah sakit itu. Apalagi, sebelum operasi, dokter yang memeriksa langsung menyodorkan resep obat untuk ditebus. Karena obatnya nggak ditanggung BPJS. “Padahal waktu si kakak nggak ada kan,” kata istri saya.

Betul juga. Tahun 2016 kakak saya melahirkan di rumah sakit itu, nggak keluar biaya sepeser pun. Gratis. Akhirnya, saya kembali ke Puskesmas dan minta rujukan yang baru. Hingga akhirnya mendapatkan rujukan ke rumah sakit sama dengan yang pertama. Tapi, kali ini di cabangnya yang berada di Jakarta Pusat. Dan istri saya melahirkan di rumah sakit yang ketiga ini. Semuanya gratis. Oiya, usia kandungannya saat melahirkan 38 minggu. Menurut mesin USG.

Paul Yoanda, Wartawan Rakyat Merdeka