Ojek Online Kini Mirip Metromini

Ngopi - Ojek Online Kini Mirip Metromini
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Semenjak menjamurnya ojek online, semua keperluan jadi lebih mudah. Untuk beli makanan-minuman, antar-antar barang, dan tentu saja berpergian ke suatu tempat, semua tinggal dipesan melalui smartphone secara online.

Beberapa bulan awal ketika saya mulai tinggal di Depok, Jawa Barat, skuad "helm ijo" dari dua aplikator banyak membantu saya untuk berpergian ke lokasi sekitar. Termasuk untuk membeli makanan di suatu tempat di Depok. Maklum, saya belum tahu seluruh seluk beluk jalan di kota belimbing itu. Jadi, daripada nyasar, lebih baik memesan melalui aplikasi.

Tapi, penilaian saya agak goyang setelah saya mulai tahu seluk beluk jalan di Kota Depok. Setiap saya pulang malam dari kantor di kawasan Kebayoran Lama menuju Kota Depok, saya sering menjumpai kemacetan di beberapa titik. Khususnya di jalan-jalan sekitaran mall. Satu di antaranya di Jalan Margonda, tidak jauh dari Margonda City.

Berita Terkait : Mantengin Cuitan Pemimpin Dunia

Di tahun 90-an dan awal 2000-an, kemacetan di sekitaran mall umumnya disebabkan angkot, minibus, Metromini, atau Kopaja yang ngetem atau mangkal di bahu jalan. Tapi, seirama perkembangan zaman, kemacetan di sejumlah titik di Kota Depok ternyata juga disebabkan ojek online yang mangkal di bahu jalan.

Di Jalan Margonda, umumnya mereka mangkal di bahu jalan depan SDN Pondok Cina 1 hingga di depan Gramedia. Tidak tangung-tanggung, kalau malam, mereka bisa membuat dua baris di bahu jalan. Imbasnya, lajur jalan menjadi sempit dan arus kendaraan jadi terhambat.

Saya tidak memukul rata bahwa semua ojek online tidak tertib lalu lintas. Ini hanya "oknumnya". Karena banyak juga saya temui, ojek online itu tertib berlalu lintas, ramah, dan mengedepankan keamanan berkendara alias tidak ugal-ugalan.

Berita Terkait : Ruang Laktasi di Kereta

Apa pun itu, kasus mangkalnya ojek online di bahu jalan harusnya bisa diatasi dengan disediakannya zona pangkalan resmi oleh pihak aplikator. Dengan begitu, pengemudi tidak perlu merusak citranya dengan mangkal di bahu jalan. Toh mereka terjun menjadi ojek online untuk memburu rezeki secara halal.

Tapi, apa jadinya bila aplikator melempar tanggung jawab membuat zona pangkalan resmi kepada mitra. Aksi saling ping pong ini pada akhirnya tidak berkesudahan. Tidak berujung dan hanya jadi debat kusir.

Dalam posisi ini, Pemerintah diharapkan bisa tegas. Caranya, dengan memberi keputusan siapa yang wajib membangun zona pangkalan dan apa konsekuensinya bila tidak membangun. 

Berita Terkait : Langkanya Turis China

Susilo Yekti, Wartawan Rakyat Merdeka