Masih Guyub

Ngopi - Masih Guyub
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kejadiannya Rabu (12/2) lalu. Jam 8 pagi. Ketika mau jalan kerja, tiba-tiba  tetangga depan saya lari berteriak panik memanggil suaminya. Suaminya segera keluar rumah. Mendengar teriakan itu, saya ikut keluar. 

Tetangga saya yang teriak itu bilang, ada yang minta tolong dari rumah Mamah Ani. Jaraknya hanya belasan meter dari rumah. Kemudian, saya dan tetangga saya itu lari ke rumah asal teriakan itu.

Begitu mendekat, Mamah Ani masih teriak sambil menangis. "Tolong... tolong... tolong." Saya dan tetangga yang cowok segera masuk. Ternyata, Mamah Ani lagi menahan jatuh badan suaminya, Bapak Udin. Kami langsung membantu. Menggotong Bapak Udin ke kasur di kamarnya. Saat itu, kondisinya tidak sadar. Kulitnya memucat.

Tidak lama, tetangga berdatangan. Saya telepon anak tertuanya, Imi. Sepantaran dengan saya. Dia tinggal di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan keluarganya. Tapi, tidak diangkat. Saya telpon istrinya. Saya kasih tahu bahwa Imi harus pulang ke Pondok Pinang. Ditunggu ibu dan bapaknya.

Berita Terkait : Fobia Barang China?

Kami yang kumpul di situ semua bingung. Panik. Tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ada yang berinisiatif memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter itu datang dan memeriksa. Alhamdulillah, Bapak Udin mulai sadar. Bisa bicara. 

Saya pun pulang. Sambil menunggu kabar, barangkali diperlukan untuk mengantar ke RS atau ke mana. Tapi, tidak lama kemudian, Whatapps saya bersuara. Dari Imi. Dia bilang tekanan darah bapaknya tinggi dan masuk angin sehingga pingsan.

Saya tinggal di lingkungan lama. Tempat saya lahir dan besar. Tapi rumah yang saya huni sekarang baru. Dulu saya tinggal sama ibu. Sekarang, alhamdulillah bisa punya rumah sendiri. Masih satu RT. 

Bedanya, dulu rumah saya persis di pinggir jalan raya. Kalau berdasarkan Peta Tata Ruang, merupakan daerah komersil. Makanya, di kiri, kanan, dan depan berupa ruko dan warung makan. Atas hal itu, sampai umur 30-an saya tidak memiliki tetangga dekat.

Berita Terkait : Sakit Diganggu Makhluk Halus?

Sekarang rumah saya masuk ke kampung. Jalannya kecil, tidak masuk mobil. Cuma muat motor. Tapi lebih asri dan kurang berdebu. Jadi, menurut saya lebih sehat.

Namun, dari dari kejadian hari itu, saya merasa beruntung. Tinggal di perkampungan yang punya banyak tetangga. Bahkan, kebanyakan masih terikat tali persaudaraan. Masih guyub.

Saya jadi yakin bahwa saat situasi darurat ada tetangga yang mendengar dan siap memberikan pertolongan. Sekecil apa pun itu. Tapi, saya terus berharap. Supaya saya dan keluarga terus sehat dan bisa membantu saat dibutuhkan.

NB: innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bapak Udin meninggal Rabu (19/2).

Berita Terkait : Berlindung dari Pinjaman Online

Marula Sardi, Wartawan Rakyat Merdeka