Sering Banjir, Pikir Dulu Deh Sebelum Ke Jakarta

Ngopi - Sering Banjir, Pikir Dulu Deh Sebelum Ke Jakarta
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tinggal di ibu kota memang bergengsi. Mau bisnis, laris manis. Mau hiburan, juga banyak pilihan. Nggak heran kalau setiap tahunnya, apalagi setelah Lebaran, banyak pendatang berbondong-bondong ingin mengadu nasib di Jakarta. Tahun lalu, kalau tidak salah, Pemprov DKI Jakarta memperkirakan ada sekitar 71 ribu pendatang usai Idul Fitri. 

Tapi, coba deh lihat berita akhir-akhir ini. Tren banjir kali ini, nggak cuma menenggelamkan ibu kota, tapi juga daerah-daerah penyangga lainnya seperti Bekasi, Bogor, Depok, dan Tangerang.

Saya jadi menduga-duga, buat orang yang biasa langganan banjir, kayanya tiap hujan turun semaleman atau seharian, jadinya cemas. Mikirin barang mau dipindah ke mana. Mobil parkir takut hanyut. Padahal kan hujan bikin suasana syahdu. Duduk di teras rumah, neguk secangkir kopi, ada pisang goreng atau singkong Thailand, muter radio, nikmat kan. 

Berita Terkait : Parah, Mobil Punya 2 Tapi Garasi Nggak Punya

"Ah, boro-boro nikmatin dinginnya angin pas hujan, baru lihat mendungnya aja udah mulai siaga. Barang-barang naikin ke lantai 2. Iya, kalau rumahnya tingkat, kalau nggak? Gotong-gotong mindahin barang ke luar rumah, ke pinggir jalan atau jembatan, mana aja yang lebih tinggi," saut Oki, seorang kawan yang tinggal di Prumpung, Jakarta Timur.

Nah, kebetulan saya juga setahun terakhir ini tinggal di Jakarta. Di Cipinang Muara. Kebayang dong, posisinya diapit dua kali. Ada Kalimalang dan BKT (Banjir Kanal Timur).

Meski rumah masuk gang, tapi berdekatan dengan perumahan elite, Cipinang Indah. Akses keluar masuknya, lewat perumahan itu. Ada rumahnya artis sekaligus politisi, Arzeti Bilbina, Zulkifli Hasan, Eko Patrio. 

Berita Terkait : Fobia Barang China?

Waktu hujan tahun baru, jalanan perumahan Cipinang Indah kebanjiran. Mall pun, hampir dua bulan tutup. Baru kembali buka satu minggu terakhir, eh, sekarang sudah kebanjiran lagi.

Rumah yang saya tempati juga ikut terimbas. Meski nggak sampai kebanjiran, tapi pompa sumur kerendem. Otomatis mesin mati. Air tanah rupanya naik drastis. 

Satu gang, secara berjamaah mengalami nasib yang sama. Di tengah banjir, kami tidak memiliki air bersih. Mau manggil tukang sumur buat angkat mesin juga nggak bisa. Mau nggak mau, harus tunggu airnya surut. "Kalau bisa, ditimba deh, daripada nggak punya air bersih sama sekali," kata suami.

Berita Terkait : Masih Guyub

Seharian, baru dua rumah yang berhasil memperbaiki pompa sumurnya. Sisanya, masih berjuang. Kalau dihitung-hitung, benerin pompa juga nggak murah. 

Jadi, buat para pendatang, mending dipikir lagi deh kalau mau ke Jakarta. Rumput tetangga memang selalu nampak hijau. Daripada, berenang-renang di tengah banjir, malah sakit kemudian.

Irma Yulia, Wartawan Rakyat Merdeka