Curhat Driver Ojol

Ngopi - Curhat Driver Ojol
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Maaf mbak, malem ini saya nggak pakai atribut. Karena teman-teman driver habis pada demo di DPR tadi. Saya nggak bisa ikut, nggak enak sebenarnya. Dapur harus tetep ngebul tapi mbak,” ceplos seorang driver yang Jumat kemarin antar saya dari stasiun MRT Blok M ke kantor sambil memberikan helm ke saya. Sebut aja Pak Uje, sebagai sapaan beliau.

Jadi sepanjang perjalanan yang nggak lebih dari 30 menit itu diisi curhatan si driver. Menurutnya dan saya cek di portal berita memang benar ada demo driver ojek online. Yang jadi pemicunya adalah wacana pembatasan sepeda motor di jalan protokol juga UU yang nyebut motor bukan transportasi umum. Sumbernya adalah wakil rakyat yang mencetuskan wacana tersebut, itu makanya disamperin ribuan driver ke gedungnya.

“Mbak bisa bayangin, kalau motor nggak boleh lewat di Jakarta, cuma motor gede (moge) doang. Kan artinya kita-kita ini nggak bisa narik. Kalau di sisi mbak gimana deh. Emang transportasi umum udah bikin nyaman dan memilih ninggalin ojek?” tanyanya di tengah perjalanan.

Berita Terkait : Ribet, Capek, Tapi Seru

Ya, dengan tegas saya bilang belum dong pak. Belum banget. Buktinya saya masih butuh ojol. Dari tempat asal ke halte, atau ke stasiun, saya akui sih, jarang yang bisa akomodir langsung tanpa harus perantara jasa Pak Uje cs.

Jalan kaki, kalau nggak terlalu jauh, ya trotoarnya sempit, kalau nggak dipakai buat parkir mentok jadi foodcourt dadakan ber-ac alam bonus polusi. Allahuakbar dah.

“Ya kan Mbak. Mereka yang nyeplos aja soal wacana ini mana tahu susahnya kita, mbak. Duh bener-bener deh. Padahal urusan di negara ini masih banyak, kenapa kita rakyat kecil dibikin susah mulu. Segala lewat mana aja diatur, motor nggak boleh jadi transportasi umum. Saya ngelus dada mulu, akhir-akhir ini sama peraturan pemerintah mbak,” kata dia.

Berita Terkait : Sering Banjir, Pikir Dulu Deh Sebelum Ke Jakarta

Masih lewat pengakuan Pak Uje, dan saya sepakat. Kalau memang benar wacana Peraturan Undang-Undang Revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) serta RUU Revisi Nomor 38 Tahun 2004 juga tentang menyebut sepeda motor bukan termasuk dalam transportasi umum itu diketuk palu, pasti banyak yang bakal merasa dirugikan.

“Perusahaan aplikasi, para pengemudi, dan mbak. Kita semua diribetin sama peraturan ini. Sementara kalau bicara transportasi publiknya begitu keadaannya. Saya kecewa sama pemerintah mbak,kalau benar ini diketuk,” ujar Pak Uje yang ngaku udah dua tahun jadi driver ojol.

Pak Uje berdomisili di sekitar Kota Tua, tiap hari keluar rumah memanfaatkan aplikasi ojolnya demi menyambung hidup. Baliknya bisa malem banget, apalagi kalau belum cuan. Cuaca yang nggak menentu belakang ini ternyata bukan lagi kendala besar Pak Uje cs.

Berita Terkait : Parah, Mobil Punya 2 Tapi Garasi Nggak Punya

Persaingan sesama driver saja tiap hari selalu ada. Ini bisa-bisanya yang di DPR mencetuskan wacana yang mungkin bikin Pak Uje nggak bisa tidur, mikirin anak istri dan dirinya, menyambung hidup di negaranya sendiri itu bagaimana lagi. Sedih juga dengar curhatnya. Huft...

Merry Apriyani, Wartawan Rakyat Merdeka