Ngopi - Ribet, Capek, Tapi Seru
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Batak, dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang selalu menjunjung tinggi budaya dan adat istiadatnya. Dalam berbagai hal. Termasuk kematian. Saya merasakan langsung.

Jadi, Sabtu, 15 Februari lalu, saya dan keluarga mendadak harus pulang kampung. Ke Pematang Siantar, Sumatera Utara. Penyebabnya, nenek saya dari pihak ayah, saya biasa memanggilnya opung boru, meninggal dunia. Opung saya meninggal dunia hari itu.

Sebagai cucu dari anak laki-laki, saya wajib hadir. Untuk melihat opung saya terakhir kalinya. Selain itu, kehadiran saya juga diperlukan untuk menerima kedatangan keluarga istri saya. Namanya, hulahula naposo. Kedatangan mereka untuk mengucapkan turut berbelasungkawa sekaligus memberikan ulos tanda kasih sayang kepada saya dan anak saya.

Berita Terkait : Nggak Berani ke Singapura

Upacara kematian opung boru saya berlangsung sekitar empat hari. Namun, prosesi sebenarnya dimulai pada hari ketiga. Diawali dengan rapat. Dalam bahasa Batak, disebut Martonggo Raja. Dengan beberapa marga yang masih berhubungan dengan keluarga saya, Butarbutar.

Setelah itu, saudara laki-laki opung boru saya, bermarga Siregar, memasukkan jasad almarhum ke dalam peti. Lalu, keluarga Siregar juga memberikan ulos. Namanya Saput. Diselimutkan langsung ke jasad opung boru saya. Oiya, sebenarnya opung boru saya berdarah asli Sunda. Yang lahir dan besar di Lampung. Diberi marga Siregar setelah menikah dengan kakek saya yang bermarga Butarbutar. 

Usai prosesi memasukkan ke peti dan pemerian Saput, barulah acara-acara adat berikutnya mengikuti. Puncaknya pada hari keempat. Hari saat jasad opung boru saya dimakamkan.

Berita Terkait : Curhat Driver Ojol

Acara dimulai sejak pagi. Sekitar pukul 8. Diawali dengan pembacaan riwayat hidup oleh tetua adat. Dalam pembacaan itu, tak ada yang terlewatkan. Mulai dari usia opung boru saya yang hampir genap 97 tahun, hingga jumlah keturunannya. Anak-menantu, cucu-cicit, yang seluruhnya mencapai 60 orang. 

Pembacaan riwayat hidup selesai. Upacara kematian dilanjutkan dengan berbagai acara adat. Upacara adat kematiannya disebut saur matua. Karena dalam hidupnya opung saya bisa dibilang lengkap. Sempurna. Punya cucu dari putra dan putrinya. Dan punya cicit. Baik dari cucu putra maupun putri. 

Karena sudah saur matua, upacara kematian untuk opung boru saya, justru lebih mirip pesta. Tiap orang yang datang menarikan beberapa jenis Tari Tortor. Bahkan, dari pihak keluarga saya memberikan tanda kasih berupa uang kepada tiap keluarga yang datang. Bahasa Bataknya, mangolopi. Bahasa kerennya, nyawer.

Berita Terkait : Sering Banjir, Pikir Dulu Deh Sebelum Ke Jakarta

Setelah beristirahat untuk makan siang, upacara itu akhirnya selesai sekitar pukul 5 sore. Ditutup pendeta dari gereja yang opung boru saya terdaftar sebagai jemaat. Lalu, berangkat ke Tempat Pemakaman Umum (TPU), yang jaraknya tak begitu jauh.

Baru kali ini saya mengikuti secara adat kematian secara full. Mulai dari rapat di internal keluarga inti. Hingga pemakaman. Rasanya? Ribet. Capek. Belum lagi harus ngeluarin duit. Tapi, seru.

Paul Yoanda, Wartawan Rakyat Merdeka