Waterboom Dadakan

Ngopi - Waterboom Dadakan
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seminggu belakangan ini tak sedikit warga di Jakarta yang ngomongin hujan dan banjir. Tak sedikit pula yang berdebat mengenai benar salah dengan banjir yang juga melanda hampir semua wilayah Jakarta itu.

Banyak motif yang mendorong perdebatan itu. Bagiku itu menjemukan dan tak penting dijadikan bahan olok-olok. Atau malah jadi alat serang menyerang.

Tempat tinggal kami memang digenangi banjir juga. Meski tak separah teman-teman yang meng-upload kondisi rumah dan lingkungannya yang terendam banjir, tempat kami tak sampai meluluhlantakkan bagian dalam rumah.

Anak-anak di lingkungan tempat tinggalku malah tampak ceria berhamburan ke luar rumah. Bermain-main di air yang dangkal. Saling berkejaran, siram menyiram, tertawa terbahak-bahak, berenang dan sebagainya. Riuh ramai. Anak-anak ini mungkin menganggap genangan air yang mengalir di depan rumah itu seperti water boom.

Berita Terkait : Susah Cari Ncuk dan Kutu Air

Saya sih mencoba tak memberikan reaksi berlebihan atas keriuhan anak-anak itu. Termasuk kedua anakku yang juga tampak berlari-larian dan berenang berkejar-kejaran di banjir itu. Basah-basahan.

Lain dengan reaksi Ibu mereka, istri saya. Entah karena cemas, atau karena capek harus mengurusi baju-baju kotor dan lingkungan yang banjir berdampak pada menumpuknya pekerjaan di rumah, istri saya mengomel kepada kedua anak kami yang bermain-main bersama anak-anak lainnya di waterboom dadakan itu.

Sepertinya dia marah, mengomel sejadi-jadinya. Saya mencoba diam dan memperhatikan ulahnya. Tenang saja.

Mulai urusan air kotor, kotoran terbawa banjir, hujan yang terus menerus mengguyur. Anak-anak yang tak ada kerjaan malah bermandi-madian di banjir.

Berita Terkait : Nggak Berani ke Singapura

“Kalau sakit nanti bagaimana? Baju-baju kotor dan basah siapa yang cuci? Hujan juga tak tahu waktu bikin banjir,” saya dengar istri ngomel-ngomel kepada kedua anak kami.

Puas dia mengomel, hingga membuat kedua anak kami terdiam, menggigil. Saya kasihan. Saya samperin. Dan saya sampaikan, dari tadi saya memperhatikan kok. “Daripada marah-marah karena hujan, banjir, baju kotor, air banjir kotor dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Coba berhenti sejenak, lihat dari sisi berbeda. Aku perhatikan, kedua anak kita malah ceria tertawa lepas dan gembira bermain di banjir yang jadi waterboom dadakan itu,” tuturku.

Betul, kita sebagai orang tua boleh mencemaskan banyak hal. Namun, rasa-rasanya, tak boleh menimpakan berbagai kesalahan dan kekesalan maupun kemarahan itu kepada kedua anak kami.

“Kamu senang, Nak? Bermain banjir tadi dengan teman-temanmu?” tanya saya pelan kepada kedua anak kami. Keduanya mengangguk pelan, ekor mata mereka tampak melirik ibu mereka.

Berita Terkait : Ribet, Capek, Tapi Seru

“Ya udah, enggak apa-apa, yang penting tidak ada yang bermasalah. Dan ingat, kalau nanti kulit ada yang gatal-gatal, jangan rewel. Sebab memang air banjir itu kotor. Diobatin aja ya. Udah, ganti pakaian, mandi, bersihkan badan, bantu Ibu kalian beberes,” ujar saya. Keduanya segera nurut. Dan Ibu mereka diam saja sembari melihati ulah kedua anak itu.

Jhon Roy P Siregar, Wartawan Rakyat Merdeka